Metro8.News – Bandar Lampung
Suasana belajar di SMAN 6 Bandar Lampung mendadak berubah menjadi kepanikan setelah ratusan siswa dan guru mengalami gejala keracunan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa ini terjadi pada Rabu (22/4/2026), tak lama setelah makanan dibagikan. Secara tiba-tiba, para siswa mulai mengeluhkan sakit perut, mual, hingga diare. Dalam waktu singkat, jumlah korban terus bertambah hingga mencapai 172 orang, terdiri dari 147 siswa dan 25 guru.
Kondisi ini sontak membuat pihak sekolah kewalahan. Sejumlah siswa harus mendapatkan penanganan medis, sementara tenaga pengajar juga ikut terdampak dengan gejala serupa. Meski tidak ada korban dengan kondisi kritis, kejadian ini tetap menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan orang tua dan masyarakat.
Pihak berwenang langsung bergerak cepat. Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Provinsi Lampung segera mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional dapur penyedia makanan MBG yang memasok ke sekolah tersebut.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi sekaligus upaya investigasi menyeluruh terhadap penyebab insiden. Dugaan awal pun mulai mengarah pada makanan yang dikonsumsi telah melewati batas waktu kelayakan.
“Keterangan sementara dari pengelola menyebutkan makanan yang seharusnya tidak layak konsumsi masih sempat disajikan,” ungkap sumber terkait.
Selain itu, persoalan sanitasi dapur juga menjadi sorotan serius. Tim kesehatan yang turun langsung ke lokasi menemukan berbagai kekurangan mendasar dalam pengelolaan kebersihan dan keamanan pangan.
Beberapa temuan di lapangan antara lain tidak tersedianya fasilitas cuci tangan yang memadai, seperti sabun dan alat pengering. Tempat sampah pun dinilai tidak memenuhi standar, sementara pengelolaan limbah makanan masih dilakukan di area dapur, yang berpotensi mengundang lalat dan menimbulkan kontaminasi.
Tak hanya itu, penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam pengolahan makanan juga belum berjalan optimal. Hal ini dinilai menjadi salah satu faktor risiko yang dapat memicu kejadian keracunan massal.
Dinas Kesehatan setempat memastikan bahwa kasus ini hanya terjadi di satu sekolah. Dari total 812 penerima program MBG di sekolah tersebut, sekitar 26 persen mengalami gejala serupa.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program MBG di berbagai daerah. Program yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi siswa justru berpotensi menimbulkan risiko jika tidak diimbangi dengan pengawasan ketat.
Baca Juga: Terbongkar Modus Baru! Sabu Disembunyikan di Kaki, Ibu Mertua Menantu Diciduk Polisi
Pihak terkait kini meminta pengelola dapur untuk segera melakukan pembenahan, mulai dari melengkapi sertifikasi, memperbaiki sistem sanitasi, hingga memastikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) berfungsi dengan baik.
Evaluasi menyeluruh juga tengah dilakukan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang. Pemerintah daerah bersama instansi terkait berkomitmen memperketat pengawasan terhadap seluruh penyedia layanan MBG.
Di sisi lain, pihak sekolah memastikan seluruh siswa dan guru yang terdampak kini dalam kondisi berangsur membaik. Penanganan medis terus dilakukan hingga mereka benar-benar pulih.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan adalah hal yang tidak bisa ditawar, terlebih dalam program berskala besar seperti MBG. Tanpa standar kebersihan dan pengelolaan yang ketat, risiko terhadap kesehatan bisa muncul kapan saja.
Publik kini menanti hasil investigasi lengkap dari pihak berwenang. Satu hal yang pasti, insiden di SMAN 6 Bandar Lampung ini menjadi pelajaran penting agar program serupa ke depan berjalan lebih aman, higienis, dan benar-benar memberi manfaat tanpa menimbulkan dampak buruk.
M8/KMP

















