Jepara, Metro8.News – Kisah mengharukan datang dari Desa Bategede, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara. Sepasang lansia, Karmi (68) dan suaminya Kusrin (73), akhirnya berhasil mewujudkan impian besar mereka: berangkat ke Tanah Suci setelah bertahun-tahun menabung dari hasil jualan bubur keliling.
Di tengah keterbatasan ekonomi, siapa sangka perjuangan sederhana yang dijalani setiap hari justru mengantarkan mereka pada salah satu perjalanan spiritual paling mulia dalam hidup. Hingga Selasa, 28 April 2026, Karmi masih terlihat berkeliling desa dengan wakul di punggungnya, menjajakan bubur jagung, sate usus, dan botok dari rumah ke rumah.
Rutinitas itu dimulai setiap pukul 16.00 WIB hingga menjelang Magrib. Dalam sehari, ia mampu menjual sekitar 40 hingga 60 bungkus dagangan. Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau bubur jagung Rp2 ribu, sate usus Rp1.000 per tusuk, hingga botok pindang Rp5 ribu per bungkus.
Meski terlihat sederhana, dari sinilah awal perjuangan panjang itu dimulai. Bersama sang suami, Karmi disiplin menyisihkan penghasilan harian antara Rp50 ribu hingga Rp120 ribu. Uang tersebut kemudian ditabung secara bertahap, bahkan sebagian dialokasikan untuk membeli hewan ternak seperti ayam, kambing, hingga sapi.
Strategi itu terbukti efektif. Hewan ternak yang mereka pelihara berkembang dan menjadi “tabungan hidup” yang nilainya terus meningkat. Hingga akhirnya, dua ekor sapi yang telah dibesarkan dijual untuk biaya pendaftaran haji.
Sekitar tahun 2019, pasangan lansia ini resmi mendaftar sebagai calon jemaah haji secara mandiri. Sejak saat itu, mereka harus menunggu antrean keberangkatan selama beberapa tahun.
“Dulu saya sering berpikir, kapan ya bisa berangkat haji seperti teman-teman,” kenang Karmi saat ditemui pada 28 April 2026.
Penantian panjang itu akhirnya terjawab. Memasuki tahun 2026, nama Karmi dan Kusrin resmi masuk daftar keberangkatan. Mereka dijadwalkan terbang ke Tanah Suci dalam Kelompok Terbang (Kloter) 38 pada Minggu malam, 3 Mei 2026.
Baca Juga: Iseng Berujung Petaka! Cincin Nyangkut di Kemaluan Pria, Damkar Turun Tangan Selamatkan di Pekanbaru
Kabar tersebut menjadi titik puncak dari perjalanan penuh haru yang mereka jalani. Tak sedikit warga sekitar yang ikut terharu dan bangga melihat perjuangan pasangan lansia tersebut akhirnya membuahkan hasil.
Menariknya, di usia yang tidak lagi muda, keduanya tetap menjaga kondisi fisik. Karmi bahkan mengaku aktivitas berjualan keliling setiap hari menjadi semacam “latihan alami” untuk menjaga kebugaran tubuhnya.
“Ganggas (sehat), masih kuat kalau untuk ibadah di Makkah dan Madinah,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Baca Juga: Innalillahi… Tabrakan Maut Dini Hari di Jalur Jepara–Kudus, Nyawa Pemotor Tak Terselamatkan
Sementara itu, Kusrin juga rutin melatih fisiknya dengan berjalan kaki setiap subuh. Kebiasaan tersebut dilakukan sebagai bentuk persiapan menghadapi rangkaian ibadah haji yang membutuhkan stamina ekstra.
Perjalanan mereka bukan hanya soal ibadah, tetapi juga cerminan nilai-nilai kehidupan yang kuat tentang kesabaran, kerja keras, dan konsistensi. Dalam kondisi serba terbatas, mereka mampu mengelola keuangan dengan disiplin dan penuh perhitungan.
Kisah ini pun menjadi inspirasi luas di tengah masyarakat. Di saat banyak orang merasa pesimis dengan kondisi ekonomi, Karmi dan Kusrin justru membuktikan bahwa mimpi besar tetap bisa diraih dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Perjuangan mereka juga menjadi pengingat bahwa ibadah haji bukan hanya soal kemampuan finansial semata, tetapi juga tentang niat, usaha, dan keikhlasan dalam menjalani proses panjang.
Kini, menjelang awal Mei 2026, hari keberangkatan semakin dekat. Dari gang-gang kecil di Desa Bategede, langkah kaki Karmi yang dulu sederhana kini bersiap menapaki tanah suci yang selama ini hanya ada dalam doa.
Cerita ini bukan sekadar kisah inspiratif biasa. Ini adalah bukti nyata bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang, selama seseorang terus berusaha dan percaya.
Dari jualan bubur Rp2 ribu, pasangan lansia ini membuktikan satu hal penting:
mimpi sebesar apa pun bisa menjadi nyata, selama tidak pernah berhenti diperjuangkan.
Sumber: JJ.C
M8/UCP

















