Jepara, Metro8.News – Pameran Tosan Aji yang digelar di Museum R.A Kartini Jepara menjadi momentum penting untuk meluruskan pandangan masyarakat terhadap pusaka tradisional, khususnya keris. Selama ini, tosan aji kerap disalahpahami sebagai benda mistis, padahal sejatinya merupakan karya budaya bernilai tinggi yang sarat sejarah dan filosofi.
Pameran yang berlangsung dalam rangkaian kegiatan budaya di Kabupaten Jepara ini menghadirkan berbagai koleksi pusaka dari berbagai daerah, sekaligus menjadi ruang edukasi bagi masyarakat lintas generasi. Kegiatan ini juga diisi sarasehan budaya yang menghadirkan sejumlah pakar dan tokoh nasional.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Jepara, Lusiana Afrianti, menegaskan bahwa pelestarian tosan aji harus menjadi perhatian serius. Ia menyebut bahwa keris bukanlah benda klenik seperti yang selama ini berkembang di masyarakat.
“Tosan aji bukan benda mistis, melainkan artefak yang mengandung nilai sejarah penuh filosofi yang harus diwariskan kepada generasi bangsa,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran pameran di museum menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan kembali nilai budaya tersebut kepada generasi muda. Ia juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam bentuk anggaran untuk menjaga kelestarian budaya lokal agar tidak kalah oleh budaya luar.
Pameran ini diinisiasi oleh komunitas pelestari budaya, termasuk Perkumpulan Pelestari Tosan Aji Jepara (PPTAJ). Ketua PPTAJ, Ricardo Gerit Zaal, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak sekadar memamerkan benda pusaka, tetapi juga memperkaya wawasan masyarakat melalui diskusi dan edukasi budaya.
Sarasehan yang digelar turut menghadirkan tokoh penting seperti KH Jadul Maula dari Lesbumi PBNU dan kurator keris DR R Wisnu Kusuma Wardana. Mereka mengupas secara mendalam nilai seni, sejarah, hingga dimensi filosofis dalam dunia tosan aji.
Baca Juga: Terbongkar! Sabu Rp 1 Miliar Diselundupkan Lewat Motor, Kurir Diciduk di Priok
KH Jadul Maula menegaskan bahwa keris harus dilihat sebagai simbol kebudayaan Nusantara, bukan sebagai objek mistik yang diagung-agungkan secara berlebihan.
“Keris merupakan bagian dari kekayaan budaya yang patut dihargai dan dihormati sebagai bagian dari tradisi,” jelasnya.
Baca Juga: Bikin Heboh! Rumah Mirip Bus AKAP di Wonogiri Ini Telan Rp125 Juta, Kini Diserbu Pengunjungbus
Pameran ini sekaligus menjadi bagian dari upaya literasi budaya di tengah masyarakat yang semakin modern. Dengan menghadirkan pusaka ke ruang publik seperti museum, diharapkan masyarakat dapat melihat langsung nilai artistik dan historis dari setiap koleksi yang ditampilkan.
Sebagaimana diketahui, tosan aji berasal dari kata “tosan” yang berarti besi dan “aji” yang berarti berharga. Dalam konteks budaya Jawa, istilah ini merujuk pada benda pusaka seperti keris dan tombak yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mencerminkan teknologi, filosofi, dan identitas budaya masyarakat.
Di Jepara sendiri, tradisi tosan aji memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan perkembangan para empu dan kebudayaan pesisir. Berbagai pameran serupa sebelumnya juga telah digelar untuk memperkuat edukasi publik dan meningkatkan kecintaan terhadap warisan budaya lokal.
Melalui pameran ini, masyarakat diajak untuk melihat kembali pusaka bukan sebagai benda mistis, melainkan sebagai karya adiluhung yang mencerminkan kecerdasan, spiritualitas, dan kearifan lokal leluhur bangsa.
Lebih dari sekadar pameran, kegiatan ini menjadi gerakan budaya untuk mengembalikan marwah tosan aji sebagai identitas bangsa. Di tengah arus globalisasi, upaya seperti ini dinilai penting agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri.
Dengan antusiasme pengunjung yang tinggi, pameran ini diharapkan menjadi awal kebangkitan kesadaran budaya, sekaligus memperkuat posisi Jepara sebagai salah satu pusat warisan budaya Nusantara.
M8/UCP

















