Metro8.News – Jepara,
Kasus dugaan skandal asusila yang menyeret perangkat Desa Bringin, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, kian memanas dan menyita perhatian publik. Seorang oknum modin berinisial SM (37) diduga kepergok berada di dalam rumah warga berinisial ZB (67) bersama seorang perempuan RF (38), di atas kasur ruang tamu dalam kondisi pintu tertutup.
Peristiwa itu terjadi di rumah milik warga berinisial ZB (67). SM disebut berada bersama RF (38) di atas kasur ruang tamu dengan kondisi pintu tertutup. Dugaan tersebut langsung memicu kegelisahan warga, mengingat SM merupakan pejabat publik yang seharusnya menjadi panutan di lingkungan desa.
Kasus ini turut menyeret FN (40), yang merasa dirugikan atas kejadian tersebut. Upaya penyelesaian sempat dilakukan melalui mediasi di Balai Desa Bringin pada Jumat (24/4/2026) sekitar pukul 13.00 WIB, melibatkan pemerintah desa, pihak kecamatan, hingga aparat keamanan.
Namun, harapan meredam konflik justru pupus. Mediasi berakhir tanpa kesepakatan.
FN mengaku kecewa dengan jalannya proses tersebut. Ia menyebut tidak dipertemukan langsung dengan SM dan merasa mendapat tekanan untuk segera menyelesaikan persoalan.
“Saya tidak dipertemukan dengan yang bersangkutan, malah merasa ditekan untuk selesai hari itu juga. Saya memilih keluar dari mediasi,” ujarnya.
Sementara itu, SM memilih bungkam saat dikonfirmasi Jurnalis Metro8. Sikap diam ini justru memicu kecurigaan publik. Bahkan pegawai aparatur Desa Beringin terkesan tidak punya adab ketika di tanya oleh media, Ketika jurnalis Metro8, menanyakan mana modin nya tersangka kasus asusila? dengan entengnya salah satu perangkat desa di dalam ruangan bilang “modinya lagi mandikan mayat dengan nada cengegesan” padahal modin tersangka kasus asusila berada di dalam satu ruangan itu.
Situasi semakin memanas setelah Ketua BPD yang diketahui merupakan ibu dari SM disebut melarang wartawan melakukan wawancara. Kondisi ini memunculkan dugaan adanya konflik kepentingan dalam penanganan kasus tersebut.
Kepala Desa Bringin, Sumardi, menyatakan pihaknya telah mengambil langkah awal dengan mencopot SM dari jabatan modin dan memindahkannya ke posisi lain. Ia juga mengakui bahwa mediasi belum tuntas karena salah satu pihak meninggalkan forum.
Namun, kebijakan tersebut belum meredakan situasi. Desakan warga justru semakin menguat.
Masyarakat menilai pemindahan jabatan bukan solusi. Mereka menuntut tindakan tegas berupa pencopotan permanen dari perangkat desa.
“Ini bukan sekadar dipindah. Kalau memang melanggar, harus dicopot dari perangkat desa. Jangan setengah-setengah,” tegas salah satu warga.
Camat Batealit: Baru Klarifikasi, Belum Masuk Polisi
Di tengah memanasnya situasi, Camat Batealit, Yenny Diah Sulistiyani, menegaskan bahwa proses yang berjalan saat ini belum masuk tahap mediasi resmi, melainkan masih sebatas klarifikasi awal.
“Ini masih klarifikasi, belum mediasi,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pertemuan belum dihadiri seluruh pihak, terutama perempuan yang diduga terlibat.
“Pihak perempuan tidak hadir, jadi proses belum bisa maksimal,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa hingga kini belum ada laporan resmi ke kepolisian.
“Belum ada laporan ke Polsek. Ini masih tahap klarifikasi,” tambahnya.
Kondisi ini membuat konflik semakin kompleks. Di satu sisi, warga menuntut tindakan cepat dan tegas. Di sisi lain, proses administratif dan kelengkapan pihak menjadi kendala penyelesaian.
Ketegangan sosial pun mulai terasa di tengah masyarakat. Warga khawatir jika tidak segera ada keputusan tegas, konflik ini bisa meluas dan sulit dikendalikan.
Hingga saat ini, belum ada keputusan final terkait nasib SM. Namun tekanan publik terus meningkat, menuntut transparansi dan ketegasan demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap aparatur desa.
M8/UCP/OBNX

















