Jakarta, Metro8.News – Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan langkah strategis dengan merombak Kabinet Merah Putih untuk kelima kalinya sejak dilantik pada Oktober 2024. Dalam perombakan terbaru ini, Presiden resmi melantik Abdul Kadir Karding sebagai Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), menggantikan Sahat Manaor Panggabean.
Pelantikan berlangsung di Istana Negara, Jakarta, pada Senin (27/4/2026), berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 50 TPA Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan dalam Jabatan Pimpinan Tinggi Utama di lingkungan Barantin. Pergantian ini dinilai sebagai langkah penting dalam memperkuat peran lembaga karantina dalam mendukung sektor ekonomi, khususnya komoditas ekspor unggulan.
Sorotan ke Sektor Sarang Burung Walet
Pergantian pucuk pimpinan Barantin langsung mendapat respons dari pelaku usaha, terutama di sektor industri Sarang Burung Walet (SBW). Benny Hutapea, Dewan Pembina Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN), menyampaikan harapan besar terhadap kepemimpinan baru tersebut.
Menurut Benny, kehadiran Abdul Kadir Karding di kursi Kepala Barantin diharapkan mampu mengembalikan integritas lembaga sekaligus memperkuat keberpihakan kepada pelaku usaha dalam negeri.
“Pergantian ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali kepercayaan pelaku usaha, khususnya industri sarang burung walet yang selama ini menghadapi berbagai hambatan,” ujarnya, Kamis (30/04/2026).
Baca Juga: Ngantuk Sedetik, Petaka Beruntun! Truk Hantam 2 Kendaraan di SPBU Troso Jepara
Masalah Regulasi dan Ego Sektoral
Benny menyoroti persoalan klasik yang hingga kini masih membelit sektor SBW, yakni tumpang tindih regulasi lintas kementerian dan lemahnya koordinasi antar lembaga. Ia menilai, kondisi tersebut berdampak langsung pada menurunnya daya saing ekspor Indonesia di pasar global.
Ia berharap Kepala Barantin yang baru mampu menjalin sinergi dengan berbagai instansi terkait, seperti Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, hingga Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
“Koordinasi lintas sektor harus diperkuat agar kebijakan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Selama ini, ego sektoral menjadi salah satu penghambat utama,” tegasnya.
Baca Juga: Heboh Penemuan Mayat Remaja di Rembang, Kepala Terikat Kaus dan Dikubur Diam-Diam
Ekspor Menurun dan Potensi Devisa Hilang
Dalam kajiannya, Benny juga mengungkap bahwa ekspor sarang burung walet Indonesia dalam lima tahun terakhir mengalami penurunan, baik dari sisi volume maupun nilai. Ia bahkan menyebut adanya potensi kehilangan devisa negara dalam jumlah sangat besar.
Padahal, Indonesia merupakan pemasok utama sarang burung walet dunia dengan kontribusi mencapai sekitar 80 persen dari total produksi global. Sejak berabad-abad lalu, komoditas ini sudah dikenal sebagai produk bernilai tinggi, bahkan sejak era Dinasti Ming di Tiongkok.
“Seharusnya Indonesia memiliki posisi tawar yang sangat kuat di pasar internasional. Namun karena berbagai kendala internal, potensi itu belum dimaksimalkan,” jelasnya.
Baca Juga: Heboh MBG Kediri! 6 Siswa Dirawat, Bupati Mas Dhito Siap Cabut Izin SPPG
Ancaman Ekspor Ilegal
Tak hanya soal regulasi, persoalan lain yang menjadi sorotan adalah maraknya ekspor ilegal sarang burung walet. Benny memperkirakan volume ekspor ilegal mencapai sekitar 2.000 ton per tahun, dengan potensi kerugian negara hingga Rp 90 triliun setiap tahunnya.
Menurutnya, kondisi ini terjadi akibat lemahnya pengawasan serta belum optimalnya diplomasi perdagangan yang dilakukan oleh lembaga terkait.
“Jika tidak segera dibenahi, kebocoran ini akan terus terjadi dan merugikan negara serta pelaku usaha resmi,” tambahnya.
Harapan pada Kepemimpinan Baru
Dengan dilantiknya Abdul Kadir Karding, pelaku usaha berharap Barantin dapat bertransformasi menjadi lembaga yang tidak hanya berfungsi sebagai pengawas, tetapi juga sebagai instrumen ekonomi dan diplomasi negara.
Benny optimistis, di bawah kepemimpinan baru, Barantin mampu memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global, khususnya untuk komoditas sarang burung walet.
“Kami berharap Barantin bisa menjadi motor penggerak yang mendorong peningkatan ekspor dan membuka akses pasar yang lebih luas,” katanya.
Suara dari Akar Rumput
Lebih jauh, Benny menegaskan bahwa harapan ini datang dari para petani dan pelaku usaha di tingkat bawah yang selama ini merasakan langsung dampak kebijakan yang tidak sinkron.
Mereka menginginkan kehadiran pemerintah yang lebih nyata dalam mendukung industri SBW sebagai salah satu sumber devisa strategis nasional.
“Ini bukan hanya soal bisnis, tapi soal kesejahteraan petani dan masa depan ekonomi nasional,” ujarnya.
Momentum Perubahan
Reshuffle kabinet yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto dinilai sebagai momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh di sektor strategis, termasuk karantina dan perdagangan ekspor.
Jika berbagai persoalan yang selama ini menghambat dapat diselesaikan, bukan tidak mungkin sektor sarang burung walet akan kembali menjadi primadona ekspor Indonesia.
“Dengan kepemimpinan yang tegas dan koordinasi yang kuat, kami yakin devisa negara dari sektor ini bisa meningkat signifikan,” pungkas Benny.
M8/ISKNDR

















