Jepara, Metro8.News – Ribuan warga memadati Lapangan Desa Bangsri, Jumat malam (29/5/2026), dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan saat mengikuti tradisi sakral “Ingkung Damar Murup” yang menjadi rangkaian utama Sedekah Bumi Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara tahun ini.
Sejak menjelang malam, masyarakat dari berbagai penjuru desa bahkan luar wilayah mulai berdatangan. Mereka duduk bersila di atas tikar sambil membawa aneka hidangan tradisional, menyatu dalam lantunan doa yang menggema dan penuh kekhusyukan.
Cahaya lampu dan obor yang menerangi area lapangan semakin menegaskan nuansa sakral. Momen ini tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga ruang kebersamaan yang mempererat ikatan sosial warga.
Baca Juga: Kabar Gembira! Pemkab Jepara Cairkan Bantuan Kuliah Rp1,5 Juta/Semester, Ini Cara Dapatnya
Petinggi Desa Bangsri, Sunaryo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya desa dalam menemukan identitas budaya yang kuat dan berakar dari masyarakat.
Hal tersebut ia ungkapkan kepada jurnalis Metro8.News pada Jumat, 29 Mei 2026.
“Secara umum, kegiatan ini dalam rangka melestarikan adat dan budaya. Sejak saya menjabat tahun 2020, kami masih mencari identitas yang tepat untuk Desa Bangsri,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, berbagai kegiatan pernah digelar untuk membangun ciri khas desa, mulai dari tari kolosal, gunungan, hingga festival penjor. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya berjalan sesuai harapan.
“Kita pernah membuat festival penjor, tapi teman-teman RW mengeluh karena bahannya sulit dicari dan mahal. Kemudian kita alihkan ke gunungan, tapi tetap membutuhkan biaya besar,” jelasnya.
Dari serangkaian evaluasi tersebut, Pemerintah Desa Bangsri akhirnya mengambil langkah dengan mengangkat tradisi lokal yang telah lama hidup di tengah masyarakat, yakni “Ingkung Damar Murup”.
Tradisi ini memiliki akar kuat dari masyarakat Dukuh Banyu Urip.
Baca Juga: Innalillahi… 2 Hari Tak Terlihat Sholat Subuh, Pria Ditemukan Tewas di SPBM Jepara
“Tradisi Ingkung Damar Urep ini asal mulanya dilestarikan oleh RW 18 Dukuh Banyu Urip. Tahun 2026 ini kita angkat menjadi kegiatan tingkat desa dalam rangka sedekah bumi,” tegasnya.
Tradisi yang sebelumnya hanya digelar di lingkup dukuh kini berkembang menjadi gerakan kolektif seluruh warga desa. Nilai kebersamaan dan spiritualitas menjadi kekuatan utama yang membuat tradisi ini diterima luas oleh masyarakat.
“Kita doa bersama memohon kepada Allah supaya dijauhkan dari bala dan diberikan keberkahan untuk Desa Bangsri,” imbuhnya.
Sementara itu, budayawan Ki Hendro Suryo Kartiko turut memberikan pandangannya terkait tradisi tersebut. Ia menilai “Ingkung Damar Murup” bukan sekadar ritual, tetapi juga simbol filosofi kehidupan masyarakat Jawa.
“Tradisi seperti ini jangan hanya dilihat sebagai acara seremonial. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, doa, dan harapan. Ini yang harus terus dijaga oleh masyarakat,” ujar Ki Hendro.
Baca Juga: Viral! Sound Horeg Takbir Keliling di Jepara Bikin Rumah Hancur, Polisi Buka Suara
Ia juga menekankan pentingnya generasi muda untuk ikut terlibat agar tradisi tidak hilang di tengah perkembangan zaman.

“Kalau anak muda ikut terlibat, tradisi ini tidak akan punah. Justru akan semakin kuat dan bisa menjadi identitas budaya desa,” tambahnya.
Antusiasme warga terlihat luar biasa. Sepanjang acara berlangsung, lapangan desa dipenuhi lautan manusia yang mengikuti doa bersama dengan penuh khidmat.
Tidak hanya kalangan orang tua, generasi muda juga tampak aktif berpartisipasi. Mereka duduk berdampingan tanpa sekat, mencerminkan kuatnya solidaritas sosial dalam tradisi ini.
Lebih dari sekadar ritual, “Ingkung Damar Murup” kini menjelma menjadi simbol persatuan dan identitas baru Desa Bangsri.
Dengan partisipasi besar dan dukungan penuh masyarakat, tradisi ini berpotensi menjadi ikon budaya baru yang tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mampu menarik perhatian lebih luas.
Sedekah Bumi Bangsri 2026 pun menjadi momentum penting kebangkitan tradisi lokal sebuah warisan budaya yang lahir dari masyarakat, dijaga bersama, dan kini tumbuh menjadi kebanggaan desa.
M8/UCP

















