Jepara, Metro8.News – Sebuah video yang memperlihatkan rumah warga rusak diduga akibat getaran sound horeg mendadak viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi di Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara saat berlangsungnya festival takbir keliling menyambut Idul Adha 2026, Selasa (26/5/26) malam.
Dalam video yang diunggah akun infoseputarjepara, terlihat kondisi rumah warga mengalami kerusakan cukup parah. Bagian jendela kaca pecah, sementara plafon rumah tampak runtuh akibat kuatnya getaran suara dari sound system berukuran besar atau yang dikenal sebagai “sound horeg”.
Narasi dalam unggahan tersebut bertuliskan “Rumah hancur efek sound horeg”, yang langsung menyita perhatian publik hingga menuai beragam komentar dari warganet.
Baca Juga: Terekam CCTV! Pencuri Tas Jamaah Masjid di Kudus Dibekuk, Uang Rp 5 Juta Raib
Menanggapi viralnya video tersebut, Kasi Humas Polres Jepara, AKP Dwi Prayitna, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa insiden itu terjadi dalam rangkaian kegiatan takbir keliling yang digelar warga setempat.
“Iya benar, itu rangkaian acara takbir keliling,” ujar Dwi saat dikonfirmasi, Rabu (27/5/2026).
Menurutnya, kerusakan hanya terjadi pada satu unit rumah warga. Dampaknya meliputi pecahnya kaca jendela dan rusaknya plafon akibat getaran keras dari sound horeg yang digunakan dalam acara tersebut.
“Yang rusak satu rumah saja,” jelasnya.
Baca Juga: Innalillahi.. Mahasiswi Asal Jepara Tewas Terlindas Tronton di Pantura Demak Usai Terpeleset
Meski sempat viral dan menimbulkan perhatian luas, Dwi memastikan situasi sudah kondusif. Pihak panitia penyelenggara disebut telah bertanggung jawab dan bersedia mengganti seluruh kerusakan yang dialami warga.
“Panitia sudah sepakat untuk mengganti kerusakan rumah warga. Jadi sebenarnya tidak ada masalah, karena sudah ada kesepakatan antara panitia dan warga,” tambahnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan aspek keselamatan dalam penggunaan sound system berdaya besar, terutama dalam kegiatan yang melibatkan permukiman warga. Selain itu, koordinasi dan antisipasi risiko juga dinilai penting agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
M8/HMS

















