Editorial, Metro8.News: Setiap tanggal 1 Juni, bangsa ini kembali berdiri tegak menyanyikan Indonesia Raya, mengibarkan Merah Putih, lalu mengucapkan kalimat-kalimat sakral tentang Pancasila. Tahun 2026, pemerintah melalui Badan Pembinaan Ideologi Pancasila mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia.”
Tema itu terdengar indah. Bahkan sangat ideal.
Namun pertanyaannya sederhana: apakah Pancasila hari ini benar-benar masih menjadi pemersatu bangsa, atau justru hanya menjadi slogan yang paling sering diucapkan tetapi paling jarang dijalankan?
Di tengah peringatan Hari Lahir Pancasila, rakyat masih disuguhi kenyataan yang sering bertolak belakang dengan nilai-nilai yang terkandung dalam lima sila tersebut. Korupsi masih muncul dari ruang-ruang kekuasaan. Ketimpangan ekonomi semakin terasa. Hukum kadang terlihat tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Media sosial berubah menjadi arena caci maki yang mempertontonkan polarisasi tanpa batas.
Ironisnya, semua itu terjadi ketika hampir setiap pejabat mengaku paling Pancasilais.
Baca Juga: Tragis di Tahunan Jepara, Dua Vario Adu Banteng Usai Aksi Salip Berujung Petaka
Sila pertama berbicara tentang Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi kebencian atas nama agama masih mudah ditemukan. Sila kedua mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, namun perundungan, kekerasan, dan ketidakadilan sosial masih menjadi berita harian. Sila ketiga mengingatkan pentingnya persatuan, tetapi masyarakat justru semakin mudah terpecah karena perbedaan pilihan politik dan kepentingan kelompok.
Pancasila akhirnya sering diperlakukan seperti pajangan di dinding kantor: dihormati secara simbolis, tetapi tidak selalu dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan.
Lebih memprihatinkan lagi, generasi muda kini hidup di era banjir informasi. Mereka tidak lagi percaya pada ceramah kosong. Mereka menilai Pancasila bukan dari pidato pejabat, melainkan dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika mereka menyaksikan korupsi, nepotisme, dan ketidakadilan, maka yang dipertanyakan bukan hanya pemerintah, tetapi juga relevansi nilai-nilai yang selama ini terus dikampanyekan.
Karena itu, Hari Lahir Pancasila tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. Upacara penting. Penghormatan kepada pendiri bangsa juga penting. Namun jauh lebih penting adalah keberanian untuk melakukan kritik dan introspeksi.
Pancasila tidak membutuhkan lebih banyak spanduk.
Pancasila membutuhkan lebih banyak keteladanan.
Pancasila tidak membutuhkan lebih banyak slogan.
Pancasila membutuhkan lebih banyak keadilan.
Jika pemerintah ingin menjadikan Pancasila sebagai fondasi perdamaian dunia, maka fondasi itu harus kokoh terlebih dahulu di dalam negeri. Tidak ada perdamaian tanpa keadilan. Tidak ada persatuan tanpa kepercayaan rakyat. Dan tidak ada makna Hari Lahir Pancasila jika nilai-nilainya hanya hidup di podium, tetapi mati dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Momentum 1 Juni seharusnya menjadi alarm nasional. Bukan sekadar mengingat kapan Pancasila lahir, tetapi mempertanyakan dengan jujur: masihkah Pancasila hidup dalam tindakan kita sebagai bangsa?
Sebab ancaman terbesar terhadap Pancasila bukanlah mereka yang menolaknya secara terang-terangan.
Ancaman terbesar justru datang dari mereka yang paling lantang meneriakkan Pancasila, tetapi paling sering mengkhianati nilai-nilainya.
Editorial Metro8.News












