Jepara, Metro8.News – Siapa sangka permainan ketapel yang dulu identik dengan permainan masa kecil kini telah berkembang menjadi olahraga masyarakat yang memiliki organisasi resmi, sistem pembinaan, hingga melahirkan atlet berprestasi di tingkat nasional.
Hal itu disampaikan Ahmad Wahab, S.Pd., pemilik Klub Sinapel (Sinanggul Ketapel) sekaligus Ketua FORSPEK (Forum Silaturahmi Pecinta Ketapel) Kabupaten Jepara, saat diwawancarai jurnalis Metro8.news, Minggu (2/8/2026).
Menurut Ahmad Wahab, olahraga ketapel di Jepara kini berada di bawah naungan FORSPEK yang tergabung dalam Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI). Organisasi tersebut telah memperoleh pengakuan resmi dari tingkat provinsi.
“Sinapel ini masuk di FORSPEK. Kami sudah mendapatkan SK dan diakui dari pihak Provinsi Jawa Tengah sejak 8 Februari 2026,” ungkap Ahmad Wahab.
Ia menjelaskan, setelah memperoleh legalitas tersebut, FORSPEK Jepara mulai aktif mengikuti berbagai agenda olahraga masyarakat, mulai dari Festival Olahraga Kabupaten (FORKAB), tingkat provinsi, hingga Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS).
Baca Juga: Tak Hiraukan Kesepakatan Penutupan! Homestay FN18 Jepara Digerebek Warga, 7 Pasang Diamankan Polisi
Ketapel Kini Menjadi Olahraga Masyarakat
Ahmad Wahab menegaskan, olahraga ketapel bukan berada di bawah KONI, melainkan KORMI yang membina olahraga rekreasi masyarakat.
“Kalau KONI membina olahraga prestasi, sedangkan kami berada di bawah KORMI. Walaupun olahraga masyarakat, tetap ada prestasi, ada kejuaraan, dan ada pembinaan atlet,” jelasnya.
Menurutnya, perkembangan olahraga ketapel di Kabupaten Jepara terus menunjukkan tren positif dengan semakin banyak komunitas yang bermunculan.
Saat ini sedikitnya terdapat beberapa klub aktif, di antaranya Sinapel (Sinanggul Ketapel), Amujumbo, Cimplung SHK, komunitas di Bandengan (Gusbon), hingga komunitas ketapel di wilayah Tahunan.
Prestasi Nasional Harumkan Nama Jepara
FORSPEK Jepara tidak hanya aktif melakukan pembinaan, tetapi juga telah mengukir prestasi membanggakan.

Ahmad Wahab mengungkapkan, pada Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) 2025 di Nusa Tenggara Barat (NTB), kontingen FORSPEK Jepara berhasil membawa pulang Juara III.
Sementara pada FORKAB Jepara 2026 yang digelar 19 Juli 2026, atlet-atlet dari Klub Sinapel mendominasi podium juara.
“Kategori SD putra-putri kami juara satu. SMP juga juara satu dan dua. Alhamdulillah pembinaan yang kami lakukan membuahkan hasil,” katanya.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa olahraga tradisional mampu bersaing dan berkembang menjadi cabang olahraga yang memiliki sistem kompetisi berjenjang.
Baca Juga: Ketua DPRD Jepara Agus Sutisna Titipkan Pesan: Taruna Akpol Jadi Inspirasi Siswa Sekolah Rakyat
Latih Fokus dan Mental Anak
Di balik sederet prestasi itu, Ahmad Wahab menegaskan tujuan utama pembinaan bukan sekadar mengejar medali.
Menurutnya, olahraga ketapel memiliki manfaat besar bagi perkembangan karakter anak.
“Ketapel melatih fokus, konsentrasi, koordinasi mata dan tangan, sekaligus melatih mental. Untuk menjadi juara tidak cukup hanya bisa memegang ketapel, tetapi harus latihan secara rutin,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak orang tua mendukung anak-anaknya mengikuti olahraga tradisional tersebut karena memiliki nilai edukatif sekaligus menjadi sarana pembinaan prestasi.
Piagam Bisa Dimanfaatkan Jalur Prestasi Sekolah
FORSPEK Jepara juga menggandeng Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) dalam berbagai penyelenggaraan kejuaraan.
Setiap atlet berprestasi memperoleh piagam penghargaan yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu dokumen pendukung jalur prestasi saat melanjutkan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Ini menjadi motivasi bagi anak-anak agar semakin semangat mengikuti kompetisi,” jelas Ahmad Wahab.
Baca Juga: Ketua DPRD Jepara Hadiri HUT Paguyuban Linmas, Kesejahteraan Satlinmas Jadi Perhatian Bersama
Klub Sinapel Gratiskan Pembinaan
Menariknya, seluruh proses latihan di Klub Sinapel Sinanggul tidak dipungut biaya.
Pengurus bahkan menyediakan amunisi dan rutin mengganti karet ketapel yang rusak agar anak-anak tetap dapat berlatih.
“Kalau karetnya rusak biasanya kami ganti. Yang membeli sendiri hanya ketapelnya karena harganya sekitar Rp100 ribu sampai Rp200 ribu, tergantung jenisnya,” katanya.
Dengan pembinaan yang konsisten, dukungan organisasi yang telah diakui secara resmi, serta prestasi yang mulai berbicara di tingkat nasional, FORSPEK optimistis olahraga ketapel akan semakin diminati masyarakat dan menjadi salah satu ikon olahraga tradisional yang membanggakan Kabupaten Jepara.
M8/UCP

















