Jepara, Metro8.News – Fakta baru terungkap dalam penyelidikan kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa 110 siswa dan 13 guru SMPN 2 Jepara. Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara menemukan sejumlah faktor risiko serius di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bandengan 5, mulai dari dugaan kontaminasi daging, proses pengolahan yang tidak sesuai standar, hingga lemahnya pengawasan internal.
Temuan tersebut tertuang dalam Laporan Sementara Hasil Investigasi Kejadian Menonjol di SMPN 2 Jepara yang dikonfirmasi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko, kepada Metro8.news, Rabu (5/8/2026).
Kasus ini bermula setelah Dinas Kesehatan menerima laporan dari pihak SMPN 2 Jepara pada Selasa (4/8/2026) sekitar pukul 13.00 WIB. Sejumlah siswa dilaporkan mengalami mual, muntah, diare, dan kram perut yang diduga muncul setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin (3/8/2026).
Hasil pendataan bersama pihak sekolah dan Tim Gerak Cepat Puskesmas Jepara mencatat 123 orang mengalami gejala, terdiri atas 110 siswa dan 13 guru. Empat siswa sempat dirujuk ke RSU PKU Aisyiyah Jepara untuk mendapatkan perawatan jalan karena kondisinya lebih lemah, namun tidak ada korban yang menjalani rawat inap.
Dugaan Kontaminasi Daging Jadi Sorotan
Tim Dinas Kesehatan bersama Puskesmas Jepara langsung melakukan penyelidikan epidemiologi, inspeksi sanitasi, serta pengambilan sampel makanan dari bank sampel milik SPPG Bandengan 5.
Dari hasil inspeksi, muncul dugaan kuat adanya persoalan pada bahan baku dan proses pengolahan makanan.
Berdasarkan keterangan siswa dan guru, olahan beef slice yang disajikan dalam menu beef teriyaki memiliki aroma prengus, terasa kurang segar, serta mengandung lemak cukup banyak.
Menariknya, terdapat pengakuan bahwa daging yang dimasak ulang sebelum dikonsumsi tidak menimbulkan keluhan. Selain itu, penerima MBG kelompok balita, ibu hamil, dan ibu menyusui (B3) yang menerima menu serupa lebih pagi sekitar pukul 08.00 WIB juga tidak mengalami gangguan kesehatan.
Tim investigasi juga menemukan adanya daging dengan kualitas di bawah standar saat proses thawing (pencairan daging beku) yang menurut pengelola telah dipisahkan. Namun, Dinas Kesehatan menilai terdapat kemungkinan telah terjadi kontaminasi silang terhadap daging lain yang masih digunakan.
Temukan Banyak Pelanggaran Sanitasi
Investigasi Dinas Kesehatan juga mengungkap sejumlah pelanggaran standar higiene sanitasi di dapur SPPG Bandengan 5.
Beberapa di antaranya yakni proses pencairan daging dilakukan menggunakan bak air yang kondisinya kurang bersih sehingga berpotensi menimbulkan kontaminasi.
Makanan mulai dimasak sejak pukul 02.00 WIB hingga sekitar pukul 06.00 WIB, tetapi baru dikonsumsi siswa sekitar pukul 11.30 WIB.
Sebelum dikemas, makanan hanya didinginkan menggunakan kipas angin.
Selain itu, penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi penjamah makanan dinilai belum diawasi secara konsisten.
Temuan lain yang menjadi perhatian adalah proses pencucian wadah MBG yang masih menggunakan ember, bukan air mengalir, kemudian dilap menggunakan kain yang dibawa masing-masing pekerja dari rumah.
Di ruang penyimpanan, sampel makanan disimpan dalam chiller bersama bahan lain tanpa sekat yang jelas sehingga berpotensi menimbulkan kontaminasi silang.
Kondisi freezer penyimpanan bahan baku juga dinilai kurang bersih, tidak memiliki pencatatan suhu, label bahan, maupun sistem monitoring masa simpan.
Tak hanya itu, tim juga menemukan SOP pengelolaan pangan tidak dipasang, pencatatan proses produksi tidak dilakukan, suhu pembilasan akhir menggunakan water heater belum mencapai standar minimal 80 derajat Celsius, limbah cair masih berbau dan ditampung di bak terbuka, serta dinding dapur belum menggunakan material kedap minyak.
Yang paling menjadi perhatian, bahan baku daging beku (frozen) yang digunakan diketahui belum memiliki Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV).
Hasil Laboratorium Masih Ditunggu
Dalam laporan sementara tersebut, Dinas Kesehatan menegaskan penyebab pasti kejadian belum dapat dipastikan karena hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan masih berlangsung.
Meski demikian, faktor risiko utama sementara diperkirakan berasal dari kualitas bahan baku daging, kemungkinan kontaminasi saat penyimpanan, proses thawing, tahapan pra-pengemasan, hingga dugaan tingkat kematangan daging yang kurang optimal.
Dinas Kesehatan juga menilai sistem monitoring internal di SPPG Bandengan 5 belum berjalan maksimal sehingga potensi masalah tidak terdeteksi lebih awal.
Dinkes Keluarkan Sejumlah Rekomendasi
Sebagai tindak lanjut, Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara meminta pengelola SPPG melakukan pengawasan internal secara ketat pada seluruh tahapan pengolahan MBG.
Selain itu, pengelola diminta hanya menggunakan bahan baku yang memiliki Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV), meningkatkan kualitas sanitasi dapur, memperbaiki sistem pencucian dan penyimpanan makanan, memasang SOP pada setiap tahapan produksi, memperbaiki pengolahan limbah, serta melakukan pemeriksaan kualitas air secara berkala.
Sementara itu, Dinas Kesehatan memastikan penyelidikan epidemiologi masih terus berlangsung hingga hasil laboratorium keluar untuk memastikan penyebab pasti insiden yang mengakibatkan 123 siswa dan guru SMPN 2 Jepara mengalami gangguan pencernaan tersebut.
M8/UCP

















