Jepara, Metro8.News – Ada apa dengan acara hiburan di Jepara? Lagi dan lagi, video yang memperlihatkan aksi saling pukul di tengah kerumunan penonton kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, keributan yang dikaitkan dengan acara ABCFEST Banyuputih, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, memantik kritik dan kekhawatiran warganet.
Video tersebut diunggah akun Facebook Semesta Semesta, kemudian dibagikan ke grup Facebook Info Seputar Jepara. Dalam rekaman yang beredar, tampak sejumlah pemuda berada di tengah kerumunan saat terjadi aksi baku hantam.
Peristiwa itu disebut terjadi pada Sabtu malam (10/10/2026). Namun, pemicu keributan, jumlah orang yang terlibat, serta ada atau tidaknya korban masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.
Yang menjadi persoalan bukan sekadar keributan dalam satu malam. Jika aksi kekerasan dalam acara hiburan terus berulang tanpa evaluasi serius, siapa yang bertanggung jawab menjaga keselamatan penonton dan masa depan generasi muda Jepara?
Viral di Media Sosial, Warganet Soroti Panitia dan EO
Beredarnya video tersebut memancing beragam tanggapan. Salah satu komentar datang dari akun Facebook Jack Separo yang menyoroti kesiapan panitia dan event organizer (EO), terutama dalam hal pengamanan.
“Panitia kro EO-ne, kurang pengamanan, seng penting bati, nyowo rak d urusi,” tulis akun tersebut.
Komentar itu merupakan kritik warganet yang mempertanyakan apakah aspek keselamatan penonton sudah menjadi prioritas penyelenggara.
Sementara itu, akun Facebook Kjie Marno Mangkuwanitolimo turut melontarkan komentar bernada kecewa.
“Kok semakin primitif yo yi,” tulisnya.
Komentar-komentar tersebut menggambarkan keresahan sebagian pengguna media sosial terhadap aksi kekerasan yang kembali menjadi tontonan publik.
Meski demikian, dugaan kurangnya pengamanan belum dapat dipastikan sebagai penyebab keributan. Pihak penyelenggara perlu diberi ruang untuk memberikan klarifikasi mengenai situasi dan langkah pengamanan saat acara berlangsung.
Jangan Sampai Tawuran Dianggap Biasa, Generasi Muda Jepara Jadi Korban
Hiburan seharusnya menjadi ruang kegembiraan, bukan tempat mempertontonkan kekerasan.
Acara musik maupun festival yang menghadirkan banyak penonton tentu membutuhkan persiapan matang. Pengamanan yang memadai, petugas yang sigap, serta prosedur penanganan keributan harus menjadi bagian penting dari penyelenggaraan.
Jika keributan terus terjadi dan hanya berakhir sebagai video viral, tanpa evaluasi dan langkah pencegahan yang nyata, masyarakat wajar mempertanyakan keseriusan semua pihak dalam menjaga keamanan acara.
Lebih memprihatinkan lagi apabila aksi saling pukul di tengah kerumunan mulai dianggap sebagai hal biasa.
Generasi muda seharusnya mendapatkan ruang untuk menyalurkan energi, menikmati musik, membangun pertemanan, dan mengembangkan kreativitas. Bukan justru terseret dalam budaya kekerasan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Jangan sampai panggung hiburan menjadi tempat tumbuhnya keberanian untuk tawuran, sementara keselamatan justru dikesampingkan.
Dampaknya bukan hanya berpotensi berupa luka fisik. Jika perilaku kekerasan terus dinormalisasi, nilai saling menghormati, pengendalian diri, dan tanggung jawab sosial juga bisa tergerus.
Karena itu, persoalan ini tidak cukup dijawab dengan menyalahkan pemuda yang terlibat. Pencegahan harus dilakukan bersama, termasuk melalui evaluasi penyelenggaraan, pengawasan, dan penegakan aturan apabila ditemukan pelanggaran.
Panitia dan EO Jangan Hanya Fokus pada Ramainya Penonton
Kritik yang muncul di media sosial semestinya menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara ABCFEST Banyuputih dan pihak-pihak terkait.
Keberhasilan sebuah acara tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya penonton, meriahnya panggung, atau keuntungan penyelenggaraan.
Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika acara berlangsung meriah, penonton pulang dengan selamat, dan tidak ada aksi kekerasan yang mencederai siapa pun.
Panitia dan EO perlu memastikan kesiapan personel pengamanan, koordinasi dengan aparat terkait, serta mekanisme penanganan apabila terjadi gesekan antarpengunjung.
Jika ditemukan kekurangan, evaluasi harus dilakukan secara terbuka dan disertai perbaikan nyata. Apabila terdapat dugaan tindak pidana, penanganannya perlu diserahkan kepada aparat berwenang sesuai ketentuan hukum.
Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi yang memastikan penyebab keributan dalam video tersebut. Belum diketahui pula apakah terdapat korban atau apakah aparat kepolisian telah melakukan penanganan.
Jangan Tunggu Ada Korban Serius Baru Bertindak
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan dalam acara publik tidak boleh dianggap sepele.
Masyarakat Jepara tentu menginginkan hiburan yang aman dan nyaman. Para pemuda juga berhak menikmati kegiatan musik tanpa harus merasa terancam oleh aksi kekerasan di tengah kerumunan.
Karena itu, penyelenggara perlu memberikan penjelasan, sementara pihak terkait dapat mengevaluasi langkah-langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
Jangan sampai setiap ada acara hiburan, masyarakat justru dibuat waswas oleh kemungkinan tawuran. Jangan sampai aksi baku hantam terus berulang, lalu dianggap sekadar keributan biasa.
Jepara membutuhkan hiburan yang membangun kreativitas generasi muda, bukan membiarkan kekerasan menjadi bagian dari budaya tontonan.
Sebab, ketika kekerasan mulai dianggap biasa, yang dipertaruhkan bukan hanya keamanan sebuah acara, melainkan juga masa depan generasi muda Jepara.
M8/UCP

















