Jepara, Metro8.News – Ancaman kekeringan yang berpotensi mengganggu sektor pertanian mulai diantisipasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara. Sejumlah langkah disiapkan untuk memastikan kebutuhan air bagi lahan pertanian tetap terpenuhi, terutama saat musim kemarau berlangsung panjang.
Upaya tersebut dilakukan mulai dari pembenahan jaringan irigasi, pembangunan serta fasilitasi bendung dan embung, hingga pengembangan sumber air baru melalui pembangunan sumur dalam di sejumlah wilayah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara, Mudhofir, mengatakan ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhitungkan dalam setiap musim tanam.
Hal itu disampaikannya saat meninjau Embung Belik Gesing di Desa Bringin, Kecamatan Batealit, Jepara.
“Pemkab Jepara berupaya bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan petani agar penggunaan air bisa lebih efisien,” kata Mudhofir.
Menurutnya, keterbatasan pasokan air dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman. Salah satu komoditas yang berisiko terdampak ketika kebutuhan air tidak mencukupi adalah jagung.
Karena itu, pendampingan kepada petani menjadi bagian dari strategi menghadapi kondisi tersebut. PPL diminta membantu petani menyesuaikan pola dan teknik pertanaman dengan kondisi ketersediaan air di masing-masing wilayah.
30 Titik Sumur Dalam Dibangun
Pemkab Jepara tidak hanya mengandalkan embung untuk menjaga pasokan air pertanian.
DKPP Jepara tahun ini membangun 30 titik sumur dalam. Dari jumlah tersebut, tiga titik dilengkapi tenaga surya untuk mendukung operasional pompa, khususnya di lokasi yang dinilai memiliki manfaat besar bagi kebutuhan pertanian.
Langkah tersebut dilakukan karena keberadaan embung belum tentu menjamin ketersediaan air sepanjang musim kemarau.
Embung yang berada di kawasan dengan sumber air terbatas tetap berpotensi mengalami kekeringan apabila musim kemarau berlangsung cukup panjang.
“Kalau ada sumber air di dekat lahan pertanian, kami minta diinformasikan agar bisa kami fasilitasi,” ujar Mudhofir.
30 Persen Sawah Masih Tanam Padi
Pengelolaan air menjadi semakin penting karena sebagian lahan baku sawah di Jepara masih dimanfaatkan untuk musim tanam ketiga.
Dari sekitar 21 ribu hektare Lahan Baku Sawah (LBS) di Kabupaten Jepara, sekitar 30 persen masih ditanami padi pada musim tanam ketiga.
Kondisi tersebut membuat ketersediaan air menjadi salah satu faktor krusial untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mengurangi risiko tanaman mengalami puso atau gagal panen.
Sejumlah wilayah Jepara sebelumnya juga pernah merasakan dampak kekeringan, termasuk Kecamatan Kedung.
Embung Belik Gesing Suplai Air 11 Hektare
Salah satu infrastruktur yang kini dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pertanian adalah Embung Belik Gesing di Desa Bringin, Kecamatan Batealit.
Embung tersebut memiliki kapasitas sekitar 500 meter kubik dan dapat mendukung pengairan lahan pertanian sekitar 11 hektare.
Keberadaannya dirasakan langsung Kelompok Tani Ngudi Karaharjan 1. Embung yang dibangun melalui bantuan Kementerian Pertanian itu kini telah difungsikan.
Ketua Kelompok Tani Ngudi Karaharjan 1, Zainal Sholikin, mengatakan embung tersebut membantu menjaga pasokan air bagi sekitar 20 petani yang menggarap tanaman padi, jagung, dan kacang.
“Adanya embung membuat debit air lebih terjamin,” katanya.
Pembangunan Embung Belik Gesing juga akan dilanjutkan pada tahun depan untuk tahap finishing.
Pemkab Jepara berharap penguatan infrastruktur air tersebut dapat membantu petani menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu sekaligus menekan risiko gagal panen akibat kekurangan air.
Dengan kombinasi embung, sumur dalam, perbaikan irigasi, serta pendampingan PPL, pengelolaan sumber daya air di sektor pertanian Jepara diharapkan semakin optimal.
Bukan sekadar menghadapi musim kemarau, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan produksi pangan di Kabupaten Jepara.
M8/DSKMF

















