Jepara, Metro8.News – Hasil pemeriksaan laboratorium terkait kasus gangguan pencernaan yang dialami penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Sekuro 1, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, akhirnya keluar.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko, membenarkan hasil pemeriksaan tersebut saat dikonfirmasi jurnalis Metro8.news, Selasa (15/9/2026).
“Hasil laboratorium sudah keluar,” kata Hadi Sarwoko saat dikonfirmasi.
Hasil pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu bagian penting dalam penelusuran kasus yang sebelumnya membuat puluhan siswa dan guru di wilayah Sekuro mengalami gangguan pencernaan usai menerima makanan MBG.
Berdasarkan hasil pengujian UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, sejumlah sampel makanan memang menunjukkan hasil berbeda.
Pada sampel ayam bakar dan sambal, seluruh parameter mikrobiologi yang diperiksa dinyatakan negatif. Pemeriksaan tersebut mencakup Bacillus cereus, Enterobacteriaceae, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Salmonella sp., serta Yeast and Mold.
Namun, hasil berbeda ditemukan pada selada dan buah anggur.
Sampel selada dinyatakan positif mengandung Escherichia coli (E. coli) serta Yeast and Mold. Sementara buah anggur dinyatakan positif mengandung Yeast and Mold atau khamir dan kapang.
Dalam laporan laboratorium, temuan tersebut masuk kategori tidak memenuhi baku mutu mikrobiologis yang dipersyaratkan.
Tak hanya makanan, pemeriksaan juga dilakukan terhadap air bersih yang digunakan dalam operasional SPPG Sekuro 1.
Sampel air yang diambil dari kran exit ruang pencucian pada 10 September 2026 menunjukkan adanya kandungan Total Coliform sebesar 13 CFU per 100 mililiter.
Angka tersebut berada di atas standar yang dipersyaratkan, yakni 0 CFU/100 ml, sehingga sampel air dinyatakan tidak memenuhi persyaratan bakteriologis untuk parameter Total Coliform.
Meski demikian, untuk parameter E. coli pada air, hasil pemeriksaan menunjukkan angka 0 CFU/100 ml atau masih memenuhi standar.
Temuan ini menjadi perhatian karena kualitas air dan kebersihan bahan pangan merupakan bagian penting dalam rantai keamanan pangan, terutama dalam penyediaan makanan bagi peserta didik.
Namun, hasil laboratorium tersebut belum serta-merta dapat dijadikan dasar tunggal untuk menyimpulkan penyebab gangguan pencernaan yang dialami penerima MBG.
Penetapan penyebab kejadian membutuhkan analisis secara menyeluruh, mulai dari hasil pemeriksaan makanan dan air, proses pencucian bahan pangan, sanitasi lingkungan, kebersihan peralatan, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.
Sebelumnya, kasus ini menjadi perhatian setelah 118 siswa dan guru di wilayah Sekuro, Mlonggo, dilaporkan mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara kemudian melakukan investigasi dan mengambil sejumlah sampel untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Hasil laboratorium yang kini telah keluar diharapkan menjadi dasar evaluasi terhadap pelaksanaan MBG di SPPG Sekuro 1.
Evaluasi tidak hanya menyangkut menu makanan, tetapi juga harus menyentuh sistem sanitasi, kualitas air, pencucian bahan baku, kebersihan peralatan, pengolahan makanan, penyimpanan hingga distribusi.
Program MBG sendiri menyasar kelompok masyarakat yang sangat membutuhkan perhatian dalam aspek keamanan pangan, terutama anak-anak sekolah.
Karena itu, setiap temuan dalam proses penyediaan makanan harus menjadi bahan evaluasi serius agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
M8/UCP

















