Jepara, Metro8.News – Gelaran Sumanding KopiFest 2026 kian memantik perhatian publik. Dalam rangkaian acara tersebut, Bupati Jepara Witiarso Utomo turun langsung menyapa warga melalui dialog interaktif bertajuk “Ngopi Bareng Bupati Jepara” di kawasan Hutan Pinus Buper Sumanding, Jumat (22/5/2026) malam.
Suasana berlangsung hangat dan penuh antusias. Ratusan warga memadati lokasi untuk ikut merasakan atmosfer kebersamaan sekaligus menggali potensi kopi lokal yang mulai naik daun.
Acara dibuka dengan pengenalan kopi khas daerah oleh barista Jepara, Afif Pancasetyawan. Ia memperkenalkan Kopi Robusta Sumanding yang berasal dari lereng Pegunungan Muria sebagai salah satu komoditas unggulan.
Menurut Afif, kopi tersebut memiliki karakter rasa yang unik dan berkelas.
Baca Juga: Heboh! Ngaku Anggota Badan Intelijen Negara, Pria di Jepara Diamankan Intel Kodim 0719/Jepara
“Cita rasanya kompleks, dengan sentuhan citrus dan fruity yang segar, serta tekstur lembut yang nyaman di lambung,” jelasnya.
Diskusi kemudian berkembang lebih dalam. Bersama Direktur Perusda Jepara, Wieke, forum ini membahas kualitas hingga peluang pasar kopi lokal. Afif menegaskan, kualitas kopi tidak hanya soal rasa, tetapi juga bergantung pada pemilihan bibit dan proses panen.
“Buah kopi harus dipetik saat benar-benar matang. Itu sangat menentukan kualitas akhir,” tegasnya.
Di tengah suasana santai, Bupati Witiarso turut mengenang kedekatannya dengan budaya ngopi sejak kecil.
Baca Juga: BMKG Ingatkan! Cuaca Jepara 23 Mei 2026 Bisa Berubah Drastis, Ini Daerah yang Diguyur Hujan
“Dari dulu saya sudah akrab dengan kopi. Nongkrong di angkringan sambil ngopi itu sudah jadi bagian hidup masyarakat desa,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia menegaskan komitmennya untuk mendorong kopi Jepara agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas, bahkan menjadi identitas baru daerah.
“Peminat kopi Jepara sudah banyak. Harapan saya, selain dikenal sebagai kota ukir dan furniture, Jepara juga dikenal lewat Kopi Tempur, Kopi Sumanding, Kopi Batealit, dan lainnya,” ujarnya.
Tak hanya promosi, forum ini juga menjadi wadah aspirasi masyarakat. Petinggi Desa Sumanding menyebut sekitar 400 kepala keluarga di wilayahnya menggantungkan hidup dari kebun kopi.
Baca Juga: Penuh Filosofi! Lakon Wayang Kulit “Wisanggeni Gugat” Warnai Sedekah Bumi Bandengan Jepara 2026
Ia berharap momentum KopiFest bisa meningkatkan nilai jual melalui pengolahan modern dan kemasan yang lebih menarik, sekaligus membuka peluang investasi.
“Kami butuh pelatihan SDM dari hulu ke hilir, termasuk pembentukan asosiasi pengusaha kopi,” katanya.
Hal senada disampaikan perwakilan Taruna Tani Mapan (Tampan), Lutfi. Kelompoknya kini mengelola sekitar 5.000 pohon kopi, namun masih membutuhkan dukungan alat roasting dan sarana distribusi.
Menanggapi hal itu, Bupati memastikan pemerintah daerah akan hadir memberikan dukungan nyata, termasuk pengembangan infrastruktur penunjang kawasan kopi.
Pemkab Jepara, lanjutnya, telah menyiapkan anggaran sekitar Rp4,5 miliar untuk pembangunan jalan Damarwulan–Tempur. Sementara akses Duplak Sumanding akan dimulai dengan pengerasan jalan sebelum peningkatan lanjutan.
“Ke depan, jalur ini kita dorong menjadi kawasan wisata alam sekaligus wisata kopi yang unggulan,” pungkasnya.
Dengan sinergi antara pemerintah, petani, dan pelaku usaha, KopiFest 2026 menjadi momentum penting bagi Jepara untuk naik kelas tak hanya sebagai kota ukir, tetapi juga sebagai salah satu sentra kopi yang diperhitungkan di Indonesia.
M8/ABD

















