Jepara, Metro8.News – Tradisi Sedekah Bumi Tahun 2026 di Desa Sowan Lor, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara berlangsung meriah dan penuh antusiasme warga. Kegiatan yang digelar selama tiga hari, mulai Selasa (5/5/2026) hingga Kamis (7/5/2026) itu menjadi momentum mempererat kebersamaan masyarakat sekaligus melestarikan budaya warisan leluhur.
Mengusung tema “Njaga Katentreman Mbangun Desa Sesarengan”, rangkaian acara Sedekah Bumi diisi berbagai kegiatan keagamaan, budaya, hingga pagelaran wayang kulit yang menjadi daya tarik utama masyarakat.
Ribuan warga tampak memadati lokasi kegiatan untuk menyaksikan beragam acara yang telah disiapkan Pemerintah Desa Sowan Lor. Tradisi tahunan tersebut juga menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas hasil bumi dan harapan agar desa senantiasa diberikan keselamatan, ketentraman, serta kesejahteraan.
Baca Juga: Geger Penemuan Mayat Tanpa Kepala di Jepara, Polisi Ungkap Kronologi Lengkapnya
Rangkaian kegiatan diawali pada Selasa (5/5/2026) dengan pelaksanaan Tahtiman Al-Qur’an dan doa bersama sejak pagi hingga malam hari. Suasana religius dan khidmat terasa saat warga berkumpul memanjatkan doa demi keberkahan desa dan keselamatan seluruh masyarakat.
Memasuki hari kedua, Rabu (6/5/2026), kemeriahan semakin terasa melalui kegiatan ramah tamah yang dimeriahkan hiburan musik. Tak hanya itu, karnaval budaya yang digelar siang hari sukses menyedot perhatian masyarakat. Berbagai peserta tampil mengenakan kostum unik dan tradisional yang menggambarkan kekayaan budaya lokal.
Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan napak tilas makam leluhur Mbah Lukman Hakim. Prosesi tersebut menjadi bagian penting dalam tradisi Sedekah Bumi sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu desa.
Puncak acara berlangsung pada Kamis (7/5/2026) melalui selamatan Sedekah Bumi dan pagelaran wayang kulit yang digelar sejak siang hingga dini hari. Pertunjukan wayang kulit menghadirkan dua pementasan sekaligus, yakni lakon “Siyang Sren (Sri Sadono)” pada siang hari dan dilanjutkan lakon “Wahyu Widayat” pada malam hari yang dibawakan Dalang Ki Hadi Purwanto.
Petinggi Desa Sowan Lor, Muh. Hadiyanto atau yang akrab disapa Mudha, mengatakan Sedekah Bumi bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan sarana mempererat hubungan manusia dengan alam dan budaya.
Menurutnya, pagelaran wayang kulit memiliki banyak nilai filosofi kehidupan yang penting diwariskan kepada generasi muda.
“Budaya pagelaran wayang kulit sangat kita perlukan karena di dalamnya mengajarkan banyak filosofi kehidupan. Harapannya, tradisi ini menciptakan rasa aman, sejahtera, dan menjauhkan desa dari marabahaya,” ujarnya.
Baca Juga: Jokowi Digugat Lagi soal Ijazah, Alumni UGM Minta Datang ke Sidang dan Tunjukkan Dokumen Asli
Kegiatan Sedekah Bumi tersebut turut dihadiri perangkat desa, Lembaga Kemasyarakatan Desa (LKD), Bhabinkamtibmas, Babinsa, tokoh agama, tokoh masyarakat, perwakilan Kecamatan Kedung, serta tamu undangan lainnya.
Antusiasme warga yang tinggi menunjukkan bahwa tradisi Sedekah Bumi masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Desa Sowan Lor. Selain menjadi sarana hiburan rakyat, kegiatan ini juga menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong dalam menjaga tradisi budaya agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
M8/EKM

















