Jepara, Metro8.News – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, mulai memasuki fase evaluasi menyeluruh. Pemerintah kecamatan bersama Satgas MBG, Forkopimcam, pengelola dapur, hingga pelaku UMKM dan BUMDes, kini bergerak memperkuat sinergi demi meningkatkan kualitas layanan sekaligus mendorong ekonomi lokal.
Rapat koordinasi yang digelar di Pendopo Kecamatan Batealit, Rabu (20/5/2026), menjadi momentum penting untuk membedah berbagai temuan lapangan. Ketua Satgas MBG Batealit, Suhartoyo, mengungkapkan bahwa monitoring telah dilakukan sebanyak tiga kali, dengan sejumlah catatan krusial.
Salah satu sorotan utama adalah kualitas menu yang dinilai masih kurang variatif dan belum sepenuhnya menarik minat anak-anak. Selain itu, standar porsi makanan di beberapa dapur juga dinilai belum memenuhi kebutuhan gizi ideal.
“Masih ada yang perlu ditingkatkan, baik dari sisi menu maupun standar pelayanan dapur,” tegas Suhartoyo.
Baca Juga: Bongkar Pabrik Cukai Palsu! 19 Orang Diciduk di Jepara–Semarang, Negara Nyaris Rugi Rp38,7 M
Tak hanya soal menu, aspek sanitasi dan kandungan gizi juga menjadi perhatian serius. Pihak Puskesmas Batealit mengingatkan bahwa program MBG bukan sekadar kegiatan jangka pendek, melainkan investasi kesehatan jangka panjang yang harus memenuhi standar teknis secara ketat.
Mulai dari keseimbangan protein hewani dan nabati, kecukupan kalori, hingga higienitas pengolahan makanan menjadi indikator utama yang tidak boleh diabaikan.
“Penyajian harus sesuai juknis, tidak boleh ada penurunan standar gizi,” tegas pihak puskesmas dalam forum tersebut.
Di sisi lain, rapat juga menyoroti pentingnya memperluas keterlibatan pelaku ekonomi lokal. Ketua Paguyuban BUMDes Batealit, Samsul, menegaskan bahwa potensi UMKM di desa sangat besar dan siap menjadi bagian dari rantai pasok dapur MBG.
Baca Juga: Hebat! Jepara Sabet Anugerah Kearsipan 2026, Dapat Nilai AA “Sangat Memuaskan” dari ANRI
Mulai dari peternak telur, ikan, hingga produsen tahu-tempe, dinilai mampu menopang kebutuhan bahan baku secara berkelanjutan.
“BUMDes siap menjadi penghubung agar UMKM desa bisa tumbuh bersama program MBG,” ujarnya.
Koordinator MBG Kecamatan Batealit, Mukhamad Bahrul Ulum, pun mendorong agar seluruh potensi UMKM dihimpun dalam sistem terkoordinasi melalui BUMDes. Dengan begitu, dapur MBG memiliki akses katalog produk yang jelas dan terstandar.
Menurutnya, pola ini tidak hanya memperlancar distribusi bahan baku, tetapi juga menciptakan pemerataan ekonomi di tingkat desa.
“Harapannya gizi terpenuhi, ekonomi lokal juga ikut bergerak,” jelasnya.
Baca Juga: Harkitnas 2026: Nur Said Soroti Kebangkitan Kesadaran Hukum, Warga Diminta Tak Takut Cari Keadilan
Sementara itu, Camat Batealit, Yenny Diah Sulistiyani, menegaskan bahwa MBG harus menjadi program berdampak ganda tidak hanya meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi desa.
Ia meminta seluruh pengelola dapur mulai aktif menggandeng UMKM dan BUMDes dalam setiap proses pengadaan bahan pangan.
“Ini momentum untuk membangun kemandirian desa, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi,” tegasnya.
Sebagai hasil akhir, rapat menghasilkan komitmen bersama untuk memperketat pengawasan, meningkatkan kualitas menu dan sanitasi, serta memperluas kolaborasi dengan UMKM dan BUMDes.
Langkah ini diharapkan mampu menjadikan program MBG di Batealit lebih tepat sasaran, berkualitas, dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
M8/PTRS

















