Jepara, Metro8.News – Insiden tongkang bermuatan batubara yang kandas hingga mulai tenggelam di perairan Kabupaten Jepara terus menjadi perhatian. Selain berpotensi mengganggu aktivitas pelayaran, peristiwa tersebut juga memunculkan kekhawatiran akan dampak lingkungan yang dapat mengancam ekosistem laut dan kehidupan masyarakat pesisir.
Pengamat sosial asal Jepara, Purnomo Wardoyo, menilai insiden tersebut harus mendapat perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, tumpahan batubara ke laut memiliki risiko tinggi terhadap kelestarian lingkungan apabila tidak segera ditangani secara tepat.
Saat dikonfirmasi Metro8.News, Kamis (16/7/2026), Purnomo mengatakan material batubara yang tercecer di laut berpotensi menimbulkan berbagai dampak ekologis yang tidak bisa dianggap remeh.
“Tumpahan batubara dari kapal tongkang berisiko merusak lingkungan laut secara serius. Dampaknya bukan hanya terlihat di permukaan, tetapi juga dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem dalam jangka panjang,” ujarnya.
Menurut Purnomo, salah satu dampak yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya kekeruhan air laut akibat sebaran material batubara. Kondisi tersebut dapat mengurangi intensitas cahaya matahari yang menembus perairan sehingga menghambat proses fotosintesis tumbuhan laut dan mengganggu kelangsungan hidup terumbu karang.
Selain itu, ia menyebut batubara juga berpotensi membawa kandungan tertentu yang dapat memengaruhi kualitas perairan. Apabila terus terpapar, kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap ikan, penyu, maupun berbagai biota laut lainnya.
Baca Juga: 7.221 Ton Batu Bara Tumpah di Laut Jepara, Pemilik Tongkang dan Pemerintah Ditagih Bertanggung Jawab
Purnomo juga mengingatkan bahwa endapan batubara dapat menutupi dasar laut dan kawasan terumbu karang yang menjadi habitat berbagai jenis organisme laut. Kerusakan habitat tersebut berpotensi mengganggu proses berkembang biak serta menurunkan produktivitas sumber daya perikanan.
“Kalau organisme kecil terdampak, maka rantai makanan di laut juga bisa ikut terganggu. Efeknya bisa merambat ke berbagai jenis biota laut hingga berdampak pada kehidupan nelayan,” jelasnya.
Ia menegaskan, penanganan insiden tongkang batubara tidak boleh hanya berfokus pada evakuasi kapal. Pemerintah bersama instansi terkait juga perlu melakukan kajian ilmiah mengenai kondisi perairan, mengidentifikasi tingkat pencemaran, serta menyiapkan langkah pemulihan lingkungan apabila ditemukan dampak ekologis.
Purnomo juga mengaku hingga kini belum mengetahui adanya perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Jepara terkait dampak lingkungan pasca-insiden tersebut.
“Selama ini saya belum pernah tahu Pemda Jepara memberikan perhatian tentang kejadian ini,” katanya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Jepara mengenai langkah penanganan dampak lingkungan akibat tenggelamnya tongkang batubara tersebut.
Baca Juga: Kasus Luluk Ilhana di Jepara Belum Terjawab, PT URECEL Tolak Audiensi FKPM, Ada Apa Sebenarnya?
Berbagai pihak berharap pemerintah daerah bersama Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup, serta aparat penegak hukum segera melakukan penanganan terpadu. Selain memastikan proses evakuasi kapal berjalan aman, langkah tersebut dinilai penting untuk melindungi ekosistem laut Jepara dan menjaga keberlangsungan mata pencaharian masyarakat pesisir.
M8/UCP

















