Jepara, Metro8.News – Bocah Cerebral Palsy Jepara bernama Muhammad Dika Saputra menjadi potret pilu perjuangan hidup anak berkebutuhan khusus di Desa Tengguli, Kecamatan Bangsri. Di tengah keterbatasan ekonomi, Dika bertahan dengan perawatan penuh kasih dari sang nenek. Di sebuah rumah sederhana di Desa Tengguli RT 01 RW 12, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara, Senin (25/5/26), tersimpan kisah haru tentang perjuangan hidup seorang anak bernama Muhammad Dika Saputra. Bocah yang lahir pada 19 Juni 2015 itu harus menghadapi kenyataan berat sejak awal kehidupannya: didiagnosis mengalami cerebral palsy dan mikrosefal akibat kelahiran prematur dengan berat badan hanya 2.000 gram.
Sejak dilahirkan di RSUD Jepara, Bocah Cerebral Palsy Jepara Dika sebenarnya rutin menjalani pemeriksaan medis. Namun seiring waktu, keterbatasan ekonomi keluarga serta kendala transportasi membuat pengobatan tidak dapat dilakukan secara optimal dan berkelanjutan.
Dalam kesehariannya, Dika tidak diasuh oleh kedua orang tua kandungnya. Ia justru tumbuh dalam pelukan kasih sayang sang nenek dan kakek. Orang tua Dika diketahui telah berpisah sejak ia masih bayi. Bahkan, dalam dua tahun terakhir, keduanya tidak lagi menjalin komunikasi maupun terlibat dalam perawatan anak tersebut.
Baca Juga: Akhir Kisah Calon Pengantin Kabur di Pati Jelang Akad, Berujung Ganti Rugi Puluhan Juta
Bocah Cerebral Palsy Jepara Dirawat Sang Nenek
Di tengah kondisi tersebut, sang nenek yang berprofesi sebagai tukang pijat harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk kebutuhan nutrisi Dika. Keterbatasan ekonomi membuat mereka tidak mampu menyediakan susu secara rutin. Saat ini, Dika hanya mengandalkan susu SGM 3+ yang dibeli secara mandiri, setelah bantuan susu dari Puskesmas Bangsri II yang sempat diterima sejak lahir hingga 2025 kini sudah tidak tersedia lagi.
Kondisi Dika Memerlukan Perhatian Serius
Kondisi kesehatan Bocah Cerebral Palsy Jepara Dika juga masih memerlukan perhatian serius. Pada Senin, 18 Mei 2026, ia kembali diperiksa di Puskesmas Bangsri II dengan keluhan batuk, demam, serta ruam di bagian pipi. Setelah mendapatkan penanganan di poli anak dan poli gizi, diketahui bahwa stok bantuan susu saat itu sedang kosong.
Tak berhenti di situ, petugas kesehatan bersama bidan desa melakukan kunjungan rumah pada Kamis, 21 Mei 2026, guna memastikan kondisi Dika secara langsung. Dari hasil pemeriksaan, berat badan Dika tercatat hanya 9,57 kilogram, masuk dalam kategori berat badan sangat kurang. Sementara lingkar kepala yang hanya 40 sentimeter semakin menguatkan kondisi mikrosefal yang dialaminya.
Baca Juga: Geger! Mayat Bertato “Yoga” Ditemukan Mengapung di Laut Kedung Jepara, Polisi Lakukan Penyelidikan
Meski demikian, ada sedikit kabar baik. Secara klinis, kondisi Dika dinyatakan relatif stabil. Batuk dan pilek mulai menunjukkan perbaikan, tidak ditemukan tanda sesak napas, dan ruam di pipi berangsur memudar. Petugas kesehatan juga memberikan edukasi kepada keluarga agar Dika tetap menjalani kontrol rutin demi menjaga kondisi kesehatannya.
Perhatian dari pemerintah sebenarnya pernah hadir. Pada Maret 2023, Penjabat Bupati Jepara bersama Dinas Kesehatan dan pihak Puskesmas Bangsri II sempat mengunjungi kediaman Dika. Selain itu, kunjungan lanjutan juga dilakukan oleh Dinas Kesehatan bersama Puskesmas Bangsri I dan II pada Mei 2023.
Namun, seiring berjalannya waktu, kebutuhan Dika tetap membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, baik dari sisi layanan kesehatan maupun dukungan sosial.
Baca Juga: Jepara Dihebohkan Isu Pocong, Polisi Ungkap Fakta Sebenarnya dan Beri Imbauan Penting
Kisah Bocah Cerebral Palsy Jepara Muhammad Dika Saputra menjadi potret nyata bahwa masih ada anak-anak dengan kebutuhan khusus di Jepara yang hidup dalam keterbatasan. Di balik segala kesulitan itu, keteguhan hati sang nenek dan kakek dalam merawat Dika sejak bayi menjadi simbol kuat tentang arti kasih sayang tanpa syarat.
Di tengah sunyinya perhatian, mereka tetap bertahan menjaga, merawat, dan berharap akan hadirnya uluran tangan yang mampu meringankan beban hidup yang mereka pikul setiap hari. Semoga ini juga menjadi panggilan bagi banyak pihak agar lebih peduli terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Dukungan berupa pendampingan kesehatan, bantuan nutrisi, dan perhatian sosial sangat dibutuhkan agar Dika bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik dan layak.
M8/PETRUS

















