Jepara, Metro8.News – Tradisi sedekah bumi atau Kabumi Desa Mambak, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara Tahun 2026, berlangsung meriah dan penuh makna. Rangkaian kegiatan yang digelar pada Minggu (24/5/2026) itu mencapai puncaknya dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang membawakan lakon “Semar Bangun Negoro.”
Sejak sore hari, masyarakat Desa Mambak sudah mulai memadati lokasi acara. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan begitu terasa, ketika warga dari berbagai kalangan berkumpul, berbaur, dan mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias. Tidak hanya menjadi ajang hiburan, Kabumi juga menjadi ruang mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Pagelaran wayang kulit sebagai puncak acara menjadi magnet utama. Iringan gamelan yang khas, suara sinden yang merdu, serta kepiawaian dalang dalam memainkan cerita membuat suasana semakin hidup. Warga tampak larut dalam alur cerita yang disajikan hingga larut malam.
Baca Juga: Akhir Kisah Calon Pengantin Kabur di Pati Jelang Akad, Berujung Ganti Rugi Puluhan Juta
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Andang Wahyu Triyanto, S.E., M.M., yang saat ini menjabat sebagai Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal yang masih dijaga kuat oleh masyarakat desa.
Dalam kesempatan tersebut, Andang menyampaikan apresiasinya terhadap masyarakat Desa Mambak yang tetap konsisten menjaga tradisi.
“Saya sangat mengapresiasi masyarakat Desa Mambak yang masih menjaga tradisi Kabumi ini. Ini bukan hanya bentuk syukur, tetapi juga menjadi kekuatan dalam menjaga persatuan dan identitas budaya kita,” ujarnya.
Baca Juga: Geger! Mayat Bertato “Yoga” Ditemukan Mengapung di Laut Kedung Jepara, Polisi Lakukan Penyelidikan
Ia juga menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keberlangsungan tradisi.
“Budaya lokal harus terus diwariskan. Generasi muda perlu dilibatkan agar tradisi seperti ini tidak hilang di tengah perkembangan zaman,” tambahnya.
Sementara itu, Petinggi Desa Mambak, Hadi Prayitno, menegaskan bahwa Kabumi merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki dan keselamatan yang diberikan kepada masyarakat.
“Kabumi ini adalah wujud syukur kita kepada Sang Pencipta. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk melestarikan kesenian dan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat,” jelasnya.
Baca Juga: Jepara Dihebohkan Isu Pocong, Polisi Ungkap Fakta Sebenarnya dan Beri Imbauan Penting
Ia juga berharap tradisi ini terus menjadi pemersatu warga.
“Melalui Kabumi, kami ingin menjaga kebersamaan dan gotong royong. Ini adalah kekuatan utama masyarakat desa,” imbuhnya.
Lakon Semar Bangun Negoro yang diangkat dalam pagelaran wayang kulit kali ini memiliki makna yang mendalam. Tokoh Semar digambarkan sebagai simbol kebijaksanaan rakyat kecil yang mampu menuntun para pemimpin menuju kebaikan dan keadilan. Nilai-nilai yang terkandung dalam cerita tersebut dinilai relevan dengan kondisi kehidupan masyarakat saat ini.
Selain sebagai hiburan, pagelaran ini juga menjadi media edukasi budaya. Generasi muda yang hadir dapat menyaksikan langsung kekayaan seni tradisional yang sarat akan pesan moral dan filosofi kehidupan.
Suasana semakin semarak ketika alunan gamelan berpadu dengan dialog dan adegan dalam cerita. Gelak tawa, tepuk tangan, hingga momen penuh haru menyatu dalam satu panggung budaya yang hidup.
Kabumi Desa Mambak 2026 tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga simbol kuat bahwa tradisi masih memiliki tempat di tengah arus modernisasi. Kekompakan warga dalam menyelenggarakan kegiatan ini menjadi bukti bahwa nilai gotong royong dan kebersamaan masih terjaga dengan baik.
Dengan berakhirnya pagelaran wayang kulit tersebut, rangkaian Kabumi Desa Mambak 2026 resmi ditutup. Namun, semangat kebersamaan dan nilai-nilai budaya yang ditanamkan diharapkan terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Tradisi ini pun menjadi pengingat bahwa di tengah perkembangan zaman, kearifan lokal tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis dan berbudaya.
M8/UCP

















