Jepara, Metro8.News – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara, Rini Patmini, A.P., mengajak seluruh masyarakat mengubah cara pandang terhadap sampah. Menurutnya, sampah bukan lagi sekadar limbah yang harus dibuang, tetapi memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan benar melalui pemilahan, bank sampah, dan pengolahan sampah organik menjadi kompos.
Dalam perbincangan bersama jurnalis Metro8.news, Jumat (17/7/2026), Rini Patmini mengungkapkan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga sebelum berkembang ke tingkat RT, RW, desa hingga sekolah.
“Kalau masyarakat mau memilah dan mengelola sampah, hasilnya bukan hanya lingkungan menjadi bersih, tetapi juga bisa menambah penghasilan melalui bank sampah,” ujar Rini.
Menurutnya, pembentukan bank sampah di lingkungan RT dan RW menjadi salah satu solusi nyata dalam mengurangi volume sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat. Sampah yang selama ini dianggap tidak berguna, seperti botol plastik, kardus, kertas, dan logam, dapat dipilah lalu dijual sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi warga.
Tak hanya sampah anorganik, Rini juga menyoroti potensi besar sampah organik, khususnya sampah dapur. Sisa sayuran, kulit buah, daun kering, hingga limbah makanan rumah tangga dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat sebagai pupuk alami sekaligus mengurangi sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Menariknya, kebiasaan tersebut bukan hanya sebatas imbauan. Rini mengaku telah menerapkannya sendiri dalam kehidupan sehari-hari dengan membiasakan memilah sampah organik dan nonorganik sejak dari rumah.
Baca Juga: Suami Meninggal, Kini Di-PHK karena Tertidur Sebentar, Perjuangan Luluk di Jepara Mengundang Simpati
“Saya sendiri sudah memulai dari rumah dengan memilah sampah organik dan nonorganik. Sampah dapur kami olah menjadi kompos, sedangkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dipisahkan untuk didaur ulang. Kalau semua masyarakat melakukan hal yang sama, dampaknya akan sangat besar untuk kebersihan Jepara,” tuturnya.
Selain masyarakat, Rini juga ingin gerakan peduli sampah menyasar dunia pendidikan. DLH Jepara siap mendampingi sekolah-sekolah yang ingin membentuk bank sampah sekaligus memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah kepada para siswa.
Menurutnya, anak-anak perlu dikenalkan sejak dini tentang cara memilah dan mengolah sampah agar tumbuh menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
“Anak-anak adalah generasi penerus. Kalau sejak sekarang mereka dibiasakan mengelola sampah, nanti mereka akan membawa kebiasaan itu ke rumah dan mengajarkannya kepada keluarga. Bahkan kelak akan diteruskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Ia menjelaskan, sekolah dapat memanfaatkan lahan yang dimiliki sebagai tempat praktik pengolahan sampah maupun pembentukan bank sampah. Dengan begitu, siswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga pengalaman langsung mengelola sampah yang memiliki nilai ekonomi.
Rini menegaskan, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Keberhasilan menjaga kebersihan Jepara membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, RT, RW, sekolah, hingga pemerintah desa.
Baca Juga: Kecelakaan Beruntun Gegerkan Jalur Kudus–Jepara Sore Ini, Begini Kronologi dari Polisi
“Harapan kami, masyarakat mulai dari rumah membiasakan memilah sampah organik dan nonorganik, mengolah sampah dapur menjadi kompos, serta membentuk bank sampah di lingkungan masing-masing. Dengan gerakan bersama, kita bisa mewujudkan Jepara yang lebih bersih, sehat, hijau, dan sampah pun bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat,” pungkas Rini.
Melalui gerakan tersebut, DLH Jepara berharap budaya memilah dan mengelola sampah dapat menjadi kebiasaan baru di tengah masyarakat. Selain mendukung terwujudnya Jepara bersih, langkah ini juga diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah yang masuk ke TPA sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi sirkular berbasis lingkungan.
M8/UCP

















