Jepara, Metro8.News – Kreativitas perempuan di tingkat desa kembali mendapat panggung di Kabupaten Jepara. PKK Desa Tahunan, Kecamatan Tahunan, berhasil meraih Juara 4 dalam lomba fashion show berbasis desain Tenun Troso tingkat Kabupaten Jepara.
Prestasi tersebut diraih setelah PKK Desa Tahunan dipercaya mewakili Kecamatan Tahunan dalam ajang yang mengangkat kekayaan kain tenun khas Jepara tersebut.
Baca Juga: Bikin Heboh Nalumsari! Motor Teman Diduga Dijual, Terduga Pelaku Kabur hingga Dikejar Warga
Di balik capaian itu, ada upaya untuk membawa identitas lokal ke panggung yang lebih luas. Bukan hanya menampilkan busana, tetapi juga menunjukkan bahwa perempuan desa memiliki kreativitas yang mampu bersaing di tingkat kabupaten.
Hal itu disampaikan Ibu Petinggi Desa Tahunan, H. Zulfatin Nikmah Muhadi, dalam wawancara langsung dengan jurnalis Metro8.news, Senin (10/8/2026).
Wakili Kecamatan Tahunan
H. Zulfatin menjelaskan, Desa Tahunan menjadi perwakilan Kecamatan Tahunan dalam lomba tersebut. Ia menjadi satu-satunya perwakilan dari Desa Tahunan yang tampil dalam kompetisi tingkat kabupaten.
Konsep yang dibawa adalah fashion show dengan desain busana berbahan Tenun Troso.
“Mewakili kecamatan, lomba fashion show dengan Tenun Troso. Kami mendesain Tenun Troso,” kata H. Zulfatin kepada Metro8.news, Senin (10/8/2026).
Dari penampilan tersebut, Desa Tahunan berhasil menempati peringkat keempat.
Bagi H. Zulfatin, hasil tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas yang tumbuh dari lingkungan desa memiliki kesempatan untuk tampil sejajar dengan daerah lain.
Namun, lebih dari sekadar mengejar peringkat, keikutsertaan itu menurutnya membawa misi untuk memperkenalkan potensi perempuan dan produk lokal Desa Tahunan.
Mendorong Kreativitas Perempuan Desa
H. Zulfatin mengatakan, Desa Tahunan memiliki banyak perempuan, baik ibu-ibu maupun kalangan remaja, yang memiliki kreativitas di bidang busana.
Potensi tersebut ingin terus didorong agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau perlombaan.
“Kami ingin orang-orang tahu bahwa di Desa Tahunan banyak sekali ibu-ibu atau remaja yang sangat kreatif di bidang busana,” ujarnya.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal dan mencintai produk budaya lokal.
Salah satu yang tengah dikembangkan adalah Batik Sri Huning Tahunan.
Baca Juga: Bikin Bangga Warga! Petinggi Tahunan H. Muhadi Apresiasi Tahunan FC Usai Juara Petinggi Cup 2
Menurut H. Zulfatin, batik tersebut menjadi bagian dari identitas yang ingin diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat.

“Kami ingin memperkenalkan batik Sri Huning Tahunan dan desain-desain kami, model-model kami, bahwa di Tahunan itu ada semuanya, lengkap,” katanya.
Tak Ingin Bergantung pada Produk dari Luar Desa
Ada pesan lain yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut. Desa Tahunan ingin membuktikan bahwa kreativitas lokal dapat dikembangkan dengan kekuatan masyarakat sendiri.
Dalam mengikuti perlombaan, pihaknya tidak mengambil desain, busana, maupun batik dari desa lain.
H. Zulfatin mengatakan, langkah tersebut merupakan bentuk kepercayaan terhadap kemampuan warga Desa Tahunan.
“Kami percaya bahwa dari Desa Tahunan bisa mampu berdiri sendiri,” tegasnya.
Pernyataan itu sekaligus menggambarkan arah pengembangan produk lokal yang ingin dibangun Desa Tahunan: bukan sekadar menggunakan produk budaya, tetapi menciptakan karya yang memiliki karakter sendiri.
Baca Juga: Motor Honda Revo Hantam Innova di Tanjakan Krasak Bangsri Jepara, Pengendara Patah Tulang
Batik Sri Huning Tahunan Mulai Mendapat Pesanan
Pengembangan Batik Sri Huning Tahunan saat ini masih dilakukan dalam skala terbatas. Produksi masih banyak melibatkan lingkungan PKK dan menyesuaikan dengan kesibukan para kader.
Meski demikian, permintaan mulai muncul.
H. Zulfatin mengungkapkan, dua kelompok telah memesan Batik Tahunan untuk digunakan sebagai seragam lembaga.
“Kami sudah mendapat pesanan dari dua kelompok untuk memesan batik kita, untuk dijadikan seragam di lembaga-lembaga,” ungkapnya.
Produksi direncanakan kembali berjalan setelah rangkaian kegiatan Agustus selesai. September menjadi salah satu waktu yang dipersiapkan untuk kembali meningkatkan produksi.
Padatnya kegiatan PKK di tingkat RT, RW hingga desa selama Agustus membuat proses produksi belum bisa dilakukan secara maksimal.
Namun, adanya pesanan tersebut menjadi sinyal bahwa Batik Sri Huning Tahunan mulai memiliki peluang untuk berkembang dari produk internal PKK menjadi produk yang mempunyai pasar lebih luas.
Baca Juga: Ngeri! Pikap New Carry Terbakar Usai Tabrak Truk di Jalan Tayu-Jepara, Ini Penyebabnya
Dari Panggung Kabupaten, Membawa Nama Desa
Bagi Desa Tahunan, Juara 4 fashion show Tenun Troso bukanlah garis akhir.
Prestasi itu justru menjadi pintu untuk memperkenalkan lebih jauh kreativitas perempuan desa, sekaligus membuka ruang bagi produk lokal seperti Batik Sri Huning Tahunan.
Tenun Troso menjadi bagian dari karya yang dibawa ke panggung Kabupaten Jepara. Sementara Batik Tahunan terus diarahkan agar memiliki identitas dan pasar sendiri.
H. Zulfatin berharap langkah tersebut dapat membuat masyarakat semakin percaya bahwa desa memiliki potensi yang tidak kalah dengan daerah lain.
Sebab, ketika kreativitas perempuan diberi ruang, sebuah perlombaan tidak lagi hanya berbicara tentang siapa yang menjadi juara.
Ia bisa menjadi panggung untuk memperkenalkan identitas desa, menghidupkan produk lokal, sekaligus membuka jalan bagi ekonomi masyarakat.
M8/UCP

















