Semarang, Metro8.News – Gelombang keresahan mahasiswa terhadap kondisi ekonomi nasional kian memuncak. Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Tengah menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Jumat (5/6/2026).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa secara tegas memberi tenggat waktu 18 hari kepada pemerintah untuk menyelamatkan nilai tukar rupiah. Jika tidak ada langkah konkret, mereka mengancam akan menggelar aksi besar bertajuk “Reformasi Jilid 2.”
Aksi dimulai sekitar pukul 17.00 WIB dan diikuti mahasiswa dari Semarang hingga Surakarta. Massa membawa spanduk bernada satir seperti “RIP Rupiah Sekarat” dan “Turut Berdukacita atas Matinya Rupiah.”
Tak hanya itu, aksi juga diwarnai simbol dramatis berupa pembakaran uang mainan, tabur bunga, hingga penyegelan pintu kantor Bank Indonesia menggunakan pita hitam-kuning.
Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Semarang, , menegaskan aksi ini lahir dari kegelisahan nyata terhadap kondisi ekonomi yang dinilai semakin rapuh.
“Kami resah. Pemerintah seolah tidak menganggap ini sebagai krisis. Kebijakan yang diambil justru terlihat tidak menyentuh persoalan utama,” tegasnya.
Mahasiswa juga menyoroti kepemimpinan yang dinilai lebih fokus pada program besar, sementara stabilitas ekonomi dinilai belum menjadi prioritas utama.
Selain Presiden, mahasiswa mendesak dan Gubernur Bank Indonesia segera mengambil langkah konkret.
Ketua BEM Universitas Sebelas Maret, , bahkan memperingatkan potensi skenario terburuk jika kondisi terus memburuk.
“Kami melihat potensi rupiah bisa tembus Rp25.000 per dolar AS. Ini bukan hal mustahil jika tidak ada kebijakan serius,” ujarnya.
Menurutnya, selama 18 hari ke depan mahasiswa akan menggelar diskusi publik dan edukasi kepada masyarakat terkait ancaman krisis ekonomi.
“Kalau tidak ada perubahan, kami siap turun dalam skala lebih besar. Tapi kami berharap itu tidak perlu terjadi,” tambahnya.
Sementara itu, pihak Bank Indonesia melalui Deputi Gubernur Senior menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu faktor global seperti konflik geopolitik Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, serta arus keluar modal asing.
Baca Juga: Ricuh di Musdes Ngabul Jepara! Polemik ABC Fest Berujung Adu Mulut dan Dorong-Dorongan
BI mengklaim telah melakukan berbagai langkah intervensi, termasuk transaksi NDF, DNDF, pembelian Surat Berharga Negara (SBN), serta mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral.
Aksi mahasiswa ini menjadi sinyal keras dari generasi muda terhadap ketidakpastian ekonomi yang semakin terasa. Dengan tenggat waktu yang terus berjalan, publik kini menanti langkah nyata pemerintah sebelum gelombang besar yang disebut “Reformasi Jilid 2” benar-benar terjadi.
M8/GLN

















