Jakarta, Metro8.News – Aksi simbolik dilakukan oleh BEM UI dengan mengirimkan karangan bunga duka cita ke Istana Negara Jakarta pada Kamis (21/5/2026). Aksi ini menjadi bentuk protes keras atas kondisi demokrasi yang dinilai semakin mundur.
Karangan bunga tersebut bukan sekadar simbol biasa. BEM UI menyebutnya sebagai representasi “wafatnya reformasi” yang telah diperjuangkan sejak 1998. Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI 2026, Hafidz Haernanda, membenarkan aksi tersebut sebagai bentuk kritik terbuka terhadap pemerintah.
“Karangan bunga itu sebagai bentuk simbolik atas matinya reformasi,” ujar Hafidz saat dikonfirmasi, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, reformasi tidak lahir dengan mudah. Perjuangan panjang yang penuh pengorbanan, bahkan hingga mengorbankan nyawa dan hilangnya sejumlah aktivis, kini dinilai dikhianati oleh praktik kekuasaan.
“Reformasi yang dahulu lahir dari darah dan air mata, hari ini semakin kehilangan nyawanya di tangan kekuasaan,” tegasnya.
Aksi ini juga menjadi peringatan bahwa cita-cita reformasi dianggap semakin terkikis. Hafidz menyebut reformasi telah “dikorupsi, dikebiri, dan akhirnya mati” di usia ke-28 tahun.
Baca Juga: Teror Molotov Tengah Malam di Kudus, Rumah Petani Diserang Saat Warga Terlelap
Sebelumnya, rangkaian aksi telah dilakukan mahasiswa melalui gerakan bertajuk #ReforMATI di kawasan Tugu Makara UI, Depok, pada 20 Mei 2026. Aksi tersebut berlanjut dengan partisipasi dalam aksi Kamisan bersama berbagai elemen masyarakat sipil di Jakarta.
Langkah BEM UI ini pun memicu perhatian publik dan menjadi perbincangan luas, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap arah demokrasi Indonesia saat ini.
M8/TMP

















