Jepara, Metro8.News – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jepara menyatakan dukungan agar Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, ditetapkan sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026.
Dukungan tersebut disampaikan menyusul keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang menetapkan sembilan pondok pesantren di lima provinsi sebagai calon lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU.
Wakil Ketua Umum PBNU, KH. Amin Said Husni, usai rapat gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU di Jakarta, Kamis (2/7/2026), menyampaikan bahwa sembilan pesantren tersebut akan menjalani proses survei sebelum diputuskan sebagai lokasi pelaksanaan muktamar.
Adapun sembilan pesantren yang masuk dalam daftar calon tuan rumah yakni Pondok Pesantren Syekh Al Falah di Padang, Sumatera Barat; Pondok Pesantren Darur Rahman dan Al Hamid di Jakarta; Pondok Pesantren Buntet, Kempek, serta Babakan Ciwaringin di Cirebon, Jawa Barat; Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri dan Pondok Pesantren Tambakberas di Jombang, Jawa Timur; serta Pondok Pesantren Qomarul Huda di Bagu, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Tim survei dijadwalkan melakukan peninjauan pada Sabtu-Minggu, 4–5 Juli 2026. Tim dipimpin Ketua Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 NU KH. Ahmad Said Asrori bersama Sekretaris SC Prof. Dr. Muhammad Nuh. Hasil survei akan dibahas dalam rapat harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU pada Selasa, 7 Juli 2026.
Menanggapi agenda tersebut, Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Jepara KH. Hayatun Nufus Abdullah Hadziq Al Hafidz menyatakan Lirboyo merupakan pilihan yang tepat untuk menjadi tuan rumah muktamar pertama pada abad kedua NU.
Pernyataan itu disampaikan saat berada di kediaman Katib Syuriyah KH. Muhammad Nasrullah Huda di Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Jepara, Kamis malam.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Meluas, Sat Samapta Polres Jepara Kembali Turun Tangan Bantu Warga Kedung
“Memang ada sembilan pondok pesantren yang diusulkan sebagai calon tuan rumah. Namun mestinya PBNU lebih mendengar saran dan pendapat kiai-kiai sepuh NU seperti KH. Nurul Huda Djazuli Ploso dan KH. Anwar Manshur Lirboyo untuk menetapkan Lirboyo sebagai lokasi Muktamar,” ujar Kiai Hayatun yang akrab disapa Mbah Yatun.
Menurutnya, Pondok Pesantren Lirboyo memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pesantren tertua dan terbesar di Indonesia dengan jumlah santri mencapai puluhan ribu.
Selain itu, jaringan alumni yang tergabung dalam Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) tersebar di berbagai daerah di Indonesia sehingga dinilai memiliki kemampuan besar dalam mendukung penyelenggaraan muktamar secara mandiri.
Baca Juga: 78 Mitra SPPG MBG Dipanggil Kejari Kudus, Ada Apa? Ini Penjelasan Resmi dan Fakta Sebenarnya
“Mestinya PBNU bisa mengembalikan marwah NU dengan cara mengurangi ketergantungan kepada pemerintah, mendengarkan nasihat dan saran dari kiai-kiai sepuh yang mempunyai akar kuat secara kultural sebagai panutan warga nahdliyin,” katanya.
Ia menilai kekuatan organisasi NU tidak hanya bertumpu pada struktur kepengurusan, tetapi juga pada dukungan para kiai sepuh dan pesantren yang selama ini menjadi basis kaderisasi.
“Struktural NU akan mudah goyah jika tidak ditopang oleh kiai-kiai sepuh yang ikhlas memikirkan umat, khususnya warga nahdliyin di desa-desa. NU sebagai jam’iyah akan kehilangan kekuatan apabila meninggalkan saran dan nasihat para pengasuh pesantren yang memiliki jaringan alumni sangat luas di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Mbah Yatun juga menegaskan bahwa pesantren merupakan akar lahirnya NU sehingga pelaksanaan muktamar di lingkungan pesantren dinilai akan semakin memperkuat jati diri organisasi.
Baca Juga: Anak Main Obat Nyamuk Picu Kebakaran Hebat, Rumah di Batealit Jepara Nyaris Ludes Dilalap Api
“Saatnya PBNU mendengar suara-suara dari cabang. Bagaimanapun NU berasal dari pesantren dan pesantren adalah basis pengkaderan NU sejak didirikan oleh Rais Akbar Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari,” ucapnya.
Ia kembali menegaskan harapan agar PBNU menetapkan Pondok Pesantren Lirboyo sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU.
“Toh Pondok Pesantren Lirboyo memiliki pengalaman menjadi tuan rumah Muktamar ke-30 NU pada tahun 1999,” pungkasnya.
Senada dengan itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Jepara KH. Charis juga menyatakan dukungan penuh terhadap usulan tersebut.
“Saya nderekke pendapat Mbah Yatun. Kita semua sepakat untuk mengembalikan dan menjaga marwah NU dengan melaksanakan muktamar di pondok pesantren,” ujar Kiai Charis.
Ia menambahkan, setelah Pondok Pesantren Ploso sukses menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU, kini giliran Pondok Pesantren Lirboyo dinilai layak menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU.
M8/UCP

















