Pekalongan, Metro8.News – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Pekalongan mendadak jadi sorotan publik setelah sebuah video yang memperlihatkan temuan belatung dalam menu makanan siswa viral di media sosial.
Peristiwa ini terjadi di salah satu sekolah kejuruan, yakni SMK Baitussalam, Kota Pekalongan, dan langsung memicu kehebohan di kalangan siswa maupun masyarakat luas. Dalam video berdurasi sekitar 32 detik yang beredar, tampak sejumlah siswa berseragam menunjukkan kotak makanan (ompreng) yang mereka terima di dalam kelas.
Suasana yang awalnya biasa saja berubah menjadi riuh ketika beberapa siswa menyadari adanya sesuatu yang tidak wajar pada lauk yang disajikan. Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas belatung terdapat pada ayam berbumbu merah yang menjadi bagian dari menu MBG hari itu.
Tak hanya satu porsi, temuan tersebut disebut terjadi pada beberapa paket makanan lain. Hal ini membuat para siswa merasa khawatir dan jijik, sekaligus mempertanyakan kualitas makanan yang mereka konsumsi dari program pemerintah tersebut.
Baca Juga: Tragedi Maut di Jalan Lintas Sumatera! Bus ALS Tabrak Truk Tangki, 16 Orang Tewas Mengenaskan
Salah satu siswa yang berada di lokasi kejadian mengungkapkan bahwa awalnya ia mengira hanya satu paket makanan yang bermasalah. Namun setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata banyak teman sekelasnya mengalami hal serupa.
“Kira-kira bukan cuma satu, tapi banyak. Teman-teman juga nemu,” ujar seorang siswa dalam video yang beredar.
Video tersebut dengan cepat menyebar luas di media sosial dan menjadi perbincangan hangat. Banyak warganet yang mengkritik kualitas pengawasan makanan dalam program MBG, terutama karena program ini ditujukan untuk mendukung kesehatan dan gizi pelajar.
Menanggapi kejadian tersebut, pihak penyedia makanan melalui SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) Kota Pekalongan membenarkan adanya insiden tersebut. Koordinator wilayah SPPG Kota Pekalongan, R. Atmajaya, menyatakan bahwa pihaknya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan dari sekolah.
“Betul, kejadian tersebut terjadi di SMK Baitussalam Kota Pekalongan. Kami langsung melakukan penanganan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah menarik seluruh makanan yang diduga bermasalah dari peredaran di sekolah tersebut. Selain itu, pihaknya juga langsung mengganti menu makanan pada hari yang sama agar siswa tetap mendapatkan asupan yang layak.
Baca Juga: Prabowo Tanya Manfaat MBG di Monas, Buruh Kompak Jawab ‘Tidak’! Jadi Sorotan May Day 2026”
“Kami sudah tarik makanan yang bermasalah dan langsung diganti. Pihak dapur juga sudah menyampaikan permohonan maaf,” jelasnya.
Lebih lanjut, Atmajaya menegaskan bahwa kejadian ini menjadi evaluasi serius bagi pihak penyelenggara, khususnya dalam hal pengawasan kualitas bahan baku dan proses pengolahan makanan di dapur umum.
Pihak SPPG juga mengaku telah berkoordinasi dengan pimpinan serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Langkah ini diambil guna mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.
Baca Juga: ICW Bongkar Dugaan Markup dan Monopoli di Program MBG, Anggaran hingga Rp2,5 Miliar Disorot
“Kami akan perketat SOP, terutama pada proses pemilihan bahan dan distribusi makanan,” tambahnya.
Meski demikian, ia memastikan bahwa kejadian ini bersifat lokal dan hanya terjadi di satu sekolah saja. Program MBG di sekolah lain di Kota Pekalongan disebut tetap berjalan normal tanpa adanya laporan serupa.
Insiden ini menjadi pengingat penting bahwa pengawasan ketat terhadap kualitas makanan sangat krusial, terlebih dalam program yang menyasar pelajar. Kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah sangat bergantung pada konsistensi kualitas dan keamanan layanan yang diberikan.
Baca Juga: 1.700 Dapur MBG Disetop! Terbongkar Cara Nakal Pangkas Porsi, Anak-anak Bisa Dirugikan
Sejumlah pihak pun berharap agar kejadian ini dijadikan momentum untuk memperbaiki sistem pengawasan, bukan hanya di Pekalongan, tetapi juga di daerah lain yang menjalankan program serupa.
Dengan viralnya kasus ini, publik kini menunggu langkah konkret dari pihak terkait untuk memastikan bahwa program MBG benar-benar memberikan manfaat tanpa mengorbankan aspek keamanan dan kesehatan siswa.
M8/KMP

















