Nasional, Metro8.News – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, kritik datang dari sosok yang sebelumnya dikenal sebagai pendukung kuat program tersebut, yakni Deddy Corbuzier.
Dalam sebuah perbincangan yang tayang di kanal YouTube pribadinya pada 11 Mei 2026, Deddy secara terbuka mengungkapkan perubahan sikapnya terhadap MBG. Bersama pakar hukum tata negara Feri Amsari, ia membedah berbagai persoalan yang menurutnya kini mulai tampak jelas dalam implementasi program tersebut di lapangan.
Deddy mengaku, pada awal peluncuran, dirinya termasuk salah satu figur publik yang membela habis-habisan MBG. Ia melihat program ini sebagai langkah strategis dan mulia untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian serius dalam hal asupan nutrisi.
Menurutnya, secara konsep, MBG memiliki fondasi yang sangat kuat. Ia percaya bahwa jika dijalankan dengan baik, program ini dapat menjadi solusi jangka panjang bagi permasalahan gizi di Indonesia. Bahkan, ia sempat menganggap MBG sebagai salah satu program yang layak didukung tanpa banyak keraguan.
Namun seiring berjalannya waktu, pandangan tersebut mulai berubah. Deddy mengungkapkan bahwa realita di lapangan ternyata jauh dari ekspektasi. Ia melihat adanya berbagai persoalan mendasar yang justru menghambat jalannya program.
Salah satu sorotan utama yang ia angkat adalah terkait sistem distribusi atau supply chain yang dinilai tidak berjalan dengan baik. Menurutnya, distribusi makanan yang seharusnya menjadi tulang punggung program justru terlihat kacau dan tidak terkoordinasi secara optimal.
Tak hanya itu, ia juga menyinggung adanya potensi kebocoran anggaran di lapangan. Meski tidak merinci secara spesifik, Deddy menilai bahwa lemahnya pengawasan membuka celah bagi terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan dana program.
Baca Juga: BREAKING NEWS: Geger! Sesosok Mayat Ditemukan di Belakang Pabrik Kanindo Jepara
“Secara konsep bagus, tapi begitu masuk ke implementasi, banyak sekali yang tidak siap. Ini yang jadi masalah,” ujarnya dalam perbincangan tersebut.
Selain persoalan distribusi dan anggaran, Deddy juga menyoroti ketiadaan uji coba atau pilot project yang matang sebelum program dijalankan secara luas. Ia menilai, langkah ini seharusnya menjadi bagian penting untuk mengukur kesiapan sistem serta mengidentifikasi potensi kendala sejak awal.
Kritik Deddy semakin tajam ketika menyinggung fenomena viral di media sosial terkait mitra SPPG yang memamerkan insentif harian hingga mencapai Rp6 juta. Aksi tersebut dinilai mencerminkan adanya ketimpangan dan lemahnya kontrol dalam pelaksanaan program.
Bagi Deddy, kejadian seperti ini tidak hanya merusak citra program, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat mengenai transparansi dan akuntabilitas pengelolaan MBG.
Dalam diskusi yang sama, Feri Amsari turut memberikan pandangannya. Ia menilai bahwa fenomena seperti ini bukanlah hal baru dalam kebijakan publik di Indonesia. Banyak program yang secara konsep terlihat ideal, namun gagal saat diimplementasikan karena kurangnya kesiapan sistem.
Feri mencontohkan bagaimana dirinya memandang sejumlah proyek besar pemerintah. Ia menegaskan bahwa kritik yang disampaikan bukan berarti menolak ide, melainkan sebagai bentuk dorongan agar pelaksanaan kebijakan bisa lebih matang dan terukur.
Deddy pun sependapat dengan hal tersebut. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak serta-merta menolak MBG secara keseluruhan. Ia tetap mendukung tujuan utama program ini, yakni meningkatkan kualitas gizi masyarakat.
Namun, ia menekankan bahwa tanpa perbaikan serius dalam aspek implementasi, tujuan tersebut akan sulit tercapai. Ia berharap pemerintah dapat segera melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari sistem distribusi, pengawasan anggaran, hingga mekanisme pelaksanaan di lapangan.
Menurutnya, kritik yang disampaikan bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai bentuk kepedulian agar program yang memiliki niat baik ini benar-benar bisa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Baca Juga: Dapur MBG “Amburadul” Picu 200 Siswa Keracunan, Menteri HAM Natalius Pigai Turun Tangan di Surabaya!
“Programnya bagus, tujuannya mulia. Tapi kalau pelaksanaannya tidak dibenahi, ya hasilnya tidak akan maksimal,” tegasnya.
Sorotan dari figur publik seperti Deddy Corbuzier ini pun menjadi perhatian luas. Di tengah ekspektasi besar masyarakat terhadap program MBG, evaluasi dan perbaikan dinilai menjadi langkah krusial agar kepercayaan publik tetap terjaga dan manfaat program dapat dirasakan secara merata.
Kini, publik menunggu langkah konkret pemerintah dalam merespons berbagai kritik tersebut. Apakah MBG mampu berbenah dan kembali ke jalur yang diharapkan, atau justru semakin terjebak dalam persoalan implementasi, menjadi pertanyaan yang terus bergulir.
M8/GLN

















