Ngawi, Metro8.News – Jagat media sosial kembali diguncang dengan beredarnya video tak senonoh yang diduga melibatkan seorang siswi di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Video tersebut viral dalam waktu singkat dan memicu keprihatinan luas dari masyarakat.
Korban yang diketahui berinisial D diduga menjadi korban kejahatan seksual berbasis digital atau video call sex (VCS) oleh seorang pria yang baru dikenalnya melalui media sosial. Mirisnya, aksi tersebut terjadi karena korban mendapat tekanan dan ancaman dari pelaku.
Kepala sekolah korban berinisial E membenarkan peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa siswinya merupakan korban dan saat ini tengah mendapatkan perlindungan penuh dari pihak sekolah, Kamis (11/6/26).
“Anak ini korban, jadi harus kami lindungi. Kami pastikan dia tetap mendapatkan pendampingan,” ujarnya.
Dari hasil penelusuran internal sekolah, korban awalnya berkenalan dengan pelaku melalui aplikasi pertemanan. Namun, hubungan tersebut berubah menjadi ancaman setelah pelaku diduga membajak nomor ponsel korban dan memaksanya melakukan tindakan tidak senonoh.
Tidak berhenti di situ, pelaku juga diduga menyebarkan video tersebut ke lingkungan pertemanan korban, memperparah tekanan psikologis yang dialami siswi tersebut.
Baca Juga: Innalillahi.. Niat Bakar Daun Tebu Berujung Maut, Warga Nalumsari Jepara Tewas Mengenaskan di Sawah
Saat ini, pihak sekolah telah berkoordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak setempat untuk memberikan pendampingan intensif kepada korban. Namun hingga kini, kasus tersebut belum dilaporkan secara resmi ke pihak kepolisian.
Pihak sekolah berharap aparat penegak hukum segera turun tangan dan mengusut tuntas kasus ini, mengingat pelaku diduga merupakan pria dewasa yang dengan sengaja memanfaatkan korban di bawah umur.
Kepala dinas terkait juga mengonfirmasi bahwa timnya telah diterjunkan langsung ke lapangan untuk memberikan perlindungan serta pendampingan psikologis kepada korban.
Kasus ini menjadi pengingat keras akan bahaya kejahatan digital yang mengintai anak-anak dan remaja di era media sosial. Edukasi tentang keamanan digital dinilai harus terus diperkuat agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
M8/KMP

















