Mojokerto, Metro8.News – Suasana tenang di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto mendadak berubah mencekam pada Rabu (6/5/2026). Warga dikejutkan oleh peristiwa berdarah yang terjadi di sebuah rumah kontrakan sederhana, ketika seorang pria berinisial S (43) diduga nekat mengamuk dan membacok istri serta mertuanya sendiri. Tragisnya, dalam insiden itu, sang mertua dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Peristiwa ini sontak menyebar cepat dari mulut ke mulut, membuat warga sekitar berbondong-bondong mendatangi lokasi. Garis polisi segera dipasang, sementara suasana haru dan ketegangan menyelimuti area kejadian. Banyak warga tak menyangka, rumah tangga yang selama ini terlihat biasa saja ternyata menyimpan konflik yang berujung maut.
Korban dalam peristiwa ini adalah Sri Wahyuni (36), istri pelaku, yang mengalami luka serius akibat sabetan senjata tajam, serta Siti Arofah (53), ibu mertua pelaku, yang tewas setelah diduga terkena beberapa luka parah. Sementara pelaku S langsung melarikan diri usai kejadian, sebelum akhirnya berhasil ditangkap aparat kepolisian di wilayah Asemrowo, Surabaya.
Baca Juga: Sempat Kabur ke 4 Kota, Kiai Ponpes Pati Tersangka Pencabulan Santriwati Ditangkap di Wonogiri
Penangkapan pelaku dilakukan oleh Tim Resmob dan Jatanras Polres Mojokerto setelah melakukan pengejaran cepat. Polisi berhasil mengendus keberadaan pelaku yang diketahui mencoba kabur menggunakan transportasi umum dan sempat turun di kawasan Asemrowo sebelum akhirnya diamankan.
“Pelaku berhasil kami amankan saat berada di wilayah Surabaya. Saat ini masih dalam pemeriksaan intensif untuk mendalami motif dan kronologi lengkap kejadian,” ujar Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Aldhino Prima Wirdhan.
Di balik peristiwa tragis ini, terungkap bahwa hubungan rumah tangga pelaku dan korban ternyata tidak harmonis dalam beberapa waktu terakhir. Warga sekitar menyebut pasangan tersebut kerap terlibat pertengkaran, terutama yang berkaitan dengan masalah ekonomi.
Ketua RT setempat, M Suroto, mengungkapkan bahwa kondisi rumah tangga pasangan tersebut memang sudah lama tidak stabil. Persoalan utang dan tekanan ekonomi disebut menjadi pemicu utama keretakan hubungan mereka.
“Sering cekcok, masalah ekonomi juga. Utangnya cukup banyak dan menumpuk,” ungkapnya.
Baca Juga: Geger! Menu MBG Siswa SMK Pekalongan Berbelatung, Kasus Viral Picu Evaluasi SPPG
Tidak hanya itu, dugaan kecemburuan juga memperkeruh suasana rumah tangga tersebut. Pelaku disebut-sebut merasa curiga terhadap aktivitas istrinya yang bekerja di usaha sablon. Kecurigaan itu semakin memuncak setelah pelaku menemukan dugaan adanya komunikasi dengan pria lain, termasuk bukti transfer yang diduga berasal dari seseorang di luar hubungan mereka.
“Pelaku merasa curiga istrinya memiliki hubungan dengan pria lain. Bahkan pernah ditunjukkan bukti transfer yang membuat emosinya semakin tidak terkendali,” tambahnya.
Baca Juga: Tragedi Maut di Jalan Lintas Sumatera! Bus ALS Tabrak Truk Tangki, 16 Orang Tewas Mengenaskan
Informasi dari warga juga menyebutkan bahwa pertengkaran dalam rumah tangga tersebut sudah sering terjadi. Meski demikian, tidak ada yang menyangka konflik itu akan berujung pada tindakan brutal yang merenggut nyawa.
Kini, rumah kontrakan yang menjadi lokasi kejadian tampak sepi dan dijaga ketat oleh aparat kepolisian. Warga sekitar masih tampak trauma dan tidak percaya atas peristiwa yang terjadi begitu cepat dan mengejutkan tersebut.
Polisi sendiri masih terus mendalami motif utama pelaku, termasuk kemungkinan adanya faktor lain di balik tindakan nekat tersebut. Pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan keluarga juga terus dilakukan untuk mengungkap fakta sebenarnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras betapa konflik rumah tangga yang tidak terselesaikan dengan baik dapat berujung pada tragedi besar. Tekanan ekonomi, kecemburuan, dan komunikasi yang buruk diduga menjadi kombinasi yang memicu ledakan emosi hingga berakhir fatal.
Hingga kini, pelaku masih ditahan di Polres Mojokerto untuk proses hukum lebih lanjut, sementara keluarga korban masih dalam suasana duka mendalam atas kejadian yang mengguncang lingkungan mereka.
M8/KMP

















