Jakarta, Metro8.New – Di tengah ratusan produk unggulan yang dipamerkan pada Festival Olahan Pangan Jawa Tengah 2026 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, stan Kabupaten Kebumen sukses mencuri perhatian pengunjung. Tidak hanya menghadirkan lanting singkong yang sudah dikenal luas, UMKM Yu Klenteng milik Dyah Pangesti .S.E, juga membawa berbagai inovasi pangan lokal yang berhasil memikat pengunjung, Jumat (10/7/2026).
Belasan produk olahan dipajang di stan Kebumen. Mulai dari lanting singkong, keripik ubi ungu, sistik ubi ungu, cookies ubi ungu, abon lele, sambal pecel, manisan bengkuang, hingga Sate Ayam Ambal, kuliner legendaris khas Kebumen dengan bumbu tempe yang menjadi identitas daerah tersebut.
Manisan Bengkuang Jadi Inovasi Andalan
Dyah Pangesti mengatakan, salah satu produk yang paling unik adalah manisan bengkuang. Ide tersebut lahir karena melimpahnya hasil panen bengkuang di Kebumen yang selama ini hanya dijual dalam bentuk segar.
“Di Kebumen banyak sekali bengkuang yang hanya dijual di pinggir jalan. Akhirnya saya berinovasi membuat manisan bengkuang. Rasanya hampir seperti carica Wonosobo, hanya saja bahan bakunya berbeda, semuanya asli dari Kebumen,” ujarnya kepada Metro8.news, Jum’at (10/6/26).
Selain itu, ia juga membawa aneka olahan ubi ungu berupa keripik, sistik hingga cookies yang dikembangkan agar memiliki nilai jual lebih tinggi.

Dirintis Lebih dari Satu Dekade
Dyah mengungkapkan usaha yang dirintisnya telah berjalan lebih dari 10 tahun. Selama itu pula ia terus berupaya mengembangkan produk berbasis pangan lokal agar mampu bersaing di pasar modern.
Meski belum pernah memperoleh bantuan modal usaha, ia mengaku mendapatkan banyak pendampingan dari Pemerintah Kabupaten Kebumen maupun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
“Bantuan modal belum pernah. Tetapi kami difasilitasi pengurusan sertifikat halal, NIB, PIRT sampai uji nutrisi produk tanpa dipungut biaya. Itu sangat membantu pelaku UMKM,” Katanya.
Produk Sudah Masuk Ritel Modern
Kerja keras tersebut membuahkan hasil. Produk lanting singkong miliknya kini telah dipasarkan di sekitar 90 gerai minimarket, selain masuk ke berbagai toko oleh-oleh dan pusat ritel modern di Kabupaten Kebumen maupun Wonosobo.
Jaringan pemasarannya juga telah menjangkau sejumlah pusat perbelanjaan besar di Kebumen, sehingga produk lokal mampu bersaing dengan produk pabrikan.
Menurut Dyah, keberhasilan masuk ke pasar modern menjadi motivasi untuk terus menjaga kualitas, legalitas, dan standar produksi.
Kendala Masih di Peralatan Produksi
Meski permintaan pasar terus meningkat, pengembangan usaha masih terkendala kapasitas peralatan produksi.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan dukungan berupa bantuan alat produksi agar UMKM mampu meningkatkan kapasitas sekaligus memenuhi kebutuhan pasar yang semakin besar.
“Harapan kami tentu ada fasilitasi peralatan produksi. Dengan alat yang lebih besar, produksi juga bisa meningkat,” ungkapnya.

Sate Ayam Ambal Ikut Dipromosikan
Tak hanya makanan kemasan, Dyah juga memperkenalkan Sate Ayam Ambal, kuliner khas Kebumen yang menggunakan bumbu tempe sebagai ciri khasnya.
Ia bahkan mengundang masyarakat yang berkunjung ke Kebumen untuk datang langsung ke warung miliknya dan menikmati cita rasa autentik sate ayam Ambal.
Keikutsertaan UMKM Yu Klenteng dalam Festival Olahan Pangan Jawa Tengah 2026 menjadi bukti bahwa pelaku usaha daerah mampu menghadirkan inovasi berbasis pangan lokal yang memiliki daya saing nasional sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner Kabupaten Kebumen kepada masyarakat luas.
M8/UCP

















