Jepara, Metro8.News – Pertumbuhan ekonomi meningkat, inflasi terkendali, hingga angka pengangguran menurun kerap dijadikan tolok ukur keberhasilan pembangunan. Namun, benarkah sederet indikator tersebut sudah cukup untuk menggambarkan kondisi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat?
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jepara mengingatkan bahwa angka statistik tidak bisa dibaca secara terpisah. Diperlukan pemahaman terhadap konteks, metode pengukuran, serta indikator pembanding agar data yang tersaji tidak menimbulkan kesimpulan keliru.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan literasi statistik bertajuk “Membedah Angka di Balik Pengukuran Stabilitas Ekonomi” yang digelar di Ruang Rapat Mal Pelayanan Publik (MPP) Jepara, Rabu (14/10/2026).
Kepala BPS Kabupaten Jepara, Isnaini, S.ST., M.M., menjelaskan bahwa setiap angka statistik memiliki definisi dan konteks yang harus dipahami sebelum digunakan untuk menilai kondisi perekonomian.
Menurutnya, satu indikator saja tidak cukup untuk menggambarkan stabilitas ekonomi secara menyeluruh. Data harus dibaca secara utuh dengan mempertimbangkan keterkaitan antara berbagai indikator ekonomi.
Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Belum Tentu Menggambarkan Kesejahteraan
Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam literasi statistik tersebut adalah cara memahami pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi umumnya diukur melalui Produk Domestik Bruto (PDB) pada tingkat nasional atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada tingkat daerah. Untuk melihat pertumbuhan riil, penghitungan menggunakan harga konstan menjadi penting karena memperhitungkan perubahan volume produksi dengan mengesampingkan pengaruh perubahan harga.
Dengan pendekatan tersebut, kenaikan angka pertumbuhan dapat menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi secara riil, bukan sekadar bertambahnya nilai akibat kenaikan harga barang dan jasa.
Namun, pertumbuhan ekonomi tetap perlu dibaca bersama indikator lain. Peningkatan produksi dan aktivitas usaha, misalnya, perlu dilihat keterkaitannya dengan kesempatan kerja, pendapatan, serta daya beli masyarakat.
Artinya, pertumbuhan ekonomi merupakan indikator penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran untuk menilai kondisi kehidupan masyarakat.
Inflasi Terkendali, Pengangguran Turun, Apa yang Perlu Dicermati?
BPS Jepara juga menyoroti pentingnya memahami angka inflasi dan pengangguran secara lebih mendalam.
Inflasi yang terkendali tidak serta-merta berarti seluruh kebutuhan masyarakat mengalami perubahan harga yang sama. Pergerakan harga setiap komoditas dapat berbeda sehingga penyebab kenaikan harga perlu ditelusuri lebih jauh.
Kondisi tersebut penting diperhatikan karena perubahan harga kebutuhan pokok dapat memengaruhi daya beli rumah tangga, terutama ketika pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan yang sebanding.
Begitu pula dengan angka pengangguran. Penurunan tingkat pengangguran perlu dibaca bersama kondisi pekerjaan yang tersedia, termasuk kualitas pekerjaan, tingkat pendapatan, dan keberadaan sektor informal.
Dengan demikian, penilaian terhadap kondisi ketenagakerjaan tidak cukup hanya berpatokan pada banyak atau sedikitnya orang yang belum bekerja. Kualitas kesempatan kerja juga menjadi bagian penting dalam memahami kondisi ekonomi masyarakat.
Stabilitas Ekonomi Juga Dipengaruhi Kondisi Global
Selain indikator domestik, perekonomian Indonesia turut dipengaruhi perkembangan ekonomi global.
Perdagangan internasional, arus modal, pergerakan nilai tukar, hingga perubahan kondisi pasar dunia dapat memengaruhi aktivitas usaha dan perekonomian dalam negeri.
Dalam paparannya, Isnaini menjelaskan bahwa stabilitas ekonomi setidaknya perlu dipahami melalui lima indikator utama, yakni pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, sektor eksternal melalui neraca pembayaran, serta nilai tukar dan cadangan devisa.
Kelima indikator tersebut saling berkaitan. Karena itu, perubahan pada satu indikator perlu dianalisis bersama kondisi indikator lainnya agar menghasilkan gambaran ekonomi yang lebih menyeluruh.
Pemahaman ini juga membantu masyarakat melihat bahwa kondisi perekonomian tidak hanya ditentukan kebijakan domestik, tetapi dapat dipengaruhi dinamika yang berkembang di tingkat internasional.
BPS Jepara Ajak Masyarakat Lebih Kritis Membaca Data
Melalui kegiatan literasi statistik tersebut, peserta diajak membangun kebiasaan memeriksa data sebelum menarik kesimpulan.
Ada empat hal mendasar yang perlu diperhatikan ketika membaca angka statistik, yaitu menentukan pembanding yang tepat, membedakan angka nominal dan riil, memahami kondisi yang mungkin tidak terlihat di balik angka rata-rata, serta memastikan sumber data yang digunakan.
Langkah tersebut dinilai penting agar data statistik tidak sekadar menjadi deretan angka, melainkan dapat digunakan untuk memahami persoalan secara objektif.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jepara, Budhi Sulistyawan, diwakili Sekretaris Dinas Kominfo, Wahyanto, dalam kegiatan tersebut.
Penguatan literasi statistik diharapkan dapat mendorong penggunaan data yang akurat dan terverifikasi, baik dalam penyusunan kebijakan pemerintah maupun dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dengan pemahaman statistik yang lebih baik, masyarakat diharapkan tidak mudah menarik kesimpulan hanya berdasarkan satu indikator. Sebaliknya, data dapat menjadi pijakan untuk memahami persoalan ekonomi secara lebih utuh dan mendukung pengambilan keputusan yang tepat.
Pada akhirnya, angka statistik bukan sekadar alat untuk menunjukkan kondisi perekonomian. Ketika dibaca dengan benar, data dapat membantu pemerintah merumuskan kebijakan yang lebih terarah sekaligus membantu masyarakat memahami perubahan ekonomi yang memengaruhi kehidupan mereka.
M8/DSKMF

















