Jepara, Metro8.News – Harapan baru muncul dari pesisir utara Jawa. Para nelayan di Kabupaten Jepara mulai melirik bahan bakar alternatif berbasis limbah plastik bernama Petasol. Inovasi yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini bahkan sudah diuji coba langsung di perahu nelayan Desa Bumiharjo, Kecamatan Donorojo.
Namun di balik optimisme itu, muncul satu kekhawatiran besar soal harga.
Dalam uji coba yang berlangsung pada Jumat, 24 April 2026, sejumlah nelayan tampak antusias mencoba Petasol sebagai pengganti solar. Bahan bakar ini diklaim lebih ramah lingkungan karena berasal dari limbah plastik yang diolah menggunakan teknologi khusus.
Meski demikian, harga eceran Petasol yang diperkirakan menyentuh Rp10.000 per liter dinilai masih terlalu tinggi. Angka tersebut jauh di atas harga solar subsidi yang saat ini berada di kisaran Rp6.800 per liter.
Baca Juga: Bikin Resah! Orang Jepara Terlibat Rampas Mobil Ibu Muda di Pati, Korban Ketakutan
Sugeng Haryanto (45), nelayan setempat, mengaku tertarik dengan inovasi tersebut. Namun ia menegaskan bahwa faktor harga akan menjadi penentu utama apakah nelayan benar-benar beralih atau tidak.
“Kalau harganya lebih mahal atau sama dengan solar, kemungkinan besar nelayan tetap pilih solar. Harapannya Petasol bisa lebih murah,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).
Dilema Ekonomi Nelayan
Bagi nelayan kecil, biaya bahan bakar menjadi komponen terbesar dalam operasional melaut. Kenaikan harga sedikit saja bisa berdampak langsung pada penghasilan harian mereka.
Karena itu, meskipun Petasol menawarkan solusi ramah lingkungan, aspek ekonomi tetap menjadi pertimbangan utama. Tanpa dukungan harga yang kompetitif, inovasi ini dikhawatirkan sulit diadopsi secara luas.
Para nelayan pun berharap ada intervensi pemerintah, baik dalam bentuk subsidi maupun skema khusus agar harga Petasol bisa ditekan.
Baca Juga: Geger Ponpes di Pati! Kiai Mesum Diduga Cabuli 50 Santriwati, Modus Jam Malam Terungkap
Dorong Produksi Mandiri
Tak hanya soal harga, nelayan juga mengusulkan solusi jangka panjang: produksi mandiri. Sugeng menyarankan agar pemerintah memberikan pelatihan serta bantuan alat pengolah limbah plastik kepada kelompok nelayan.
Dengan teknologi fast pyrolysis, limbah plastik bisa diubah menjadi bahan bakar seperti Petasol. Jika nelayan mampu memproduksi sendiri, biaya bisa ditekan sekaligus membuka peluang ekonomi baru di desa pesisir.
Saat ini, fasilitas pengolahan plastik di Jepara masih sangat terbatas. Baru ada satu mesin berkapasitas 50 kilogram yang berada di TPA Karimunjawa, sehingga belum mampu menjangkau kebutuhan nelayan secara luas.
Klaim Ramah Lingkungan
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria, memastikan bahwa Petasol telah melalui uji kelayakan. Menurutnya, bahan bakar ini aman digunakan untuk mesin perahu dan alat pertanian.
Bahkan, emisi gas buangnya diklaim telah memenuhi standar dari Lemigas.
“Ini bukan hanya soal energi alternatif, tapi juga solusi konkret untuk mengatasi masalah sampah plastik. Dari yang sebelumnya tidak bernilai, kini bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat secara ekonomi,” jelasnya.
Baca Juga: ICW Bongkar Dugaan Markup dan Monopoli di Program MBG, Anggaran hingga Rp2,5 Miliar Disorot
Solusi Energi Sekaligus Sampah
Pengembangan Petasol dinilai sebagai langkah strategis dalam menjawab dua persoalan besar sekaligus: krisis energi dan penumpukan sampah plastik.
Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan limbah. Jika teknologi ini dikembangkan secara masif, bukan tidak mungkin limbah plastik yang selama ini menjadi masalah justru berubah menjadi sumber energi baru.
Namun demikian, keberhasilan implementasi Petasol di lapangan tetap bergantung pada satu hal krusial: keterjangkauan harga bagi masyarakat, khususnya nelayan kecil.
Jika harga bisa ditekan lebih murah dari solar subsidi, bukan tidak mungkin Petasol akan menjadi masa depan bahan bakar di pesisir Indonesia.
M8/JJ.C

















