Nasional, Metro8.New – Indonesia mulai memasuki babak baru dalam pengembangan bahan bakar nabati. Di tengah dorongan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan impor bensin, BBM berbasis campuran bioetanol kini sudah tersedia secara komersial di sejumlah SPBU Pertamina.
Produk tersebut adalah Pertamax Green 95, BBM dengan campuran bioetanol 5 persen atau E5 dan memiliki angka oktan RON 95.
Kabar terbaru mengenai pengembangan BBM bioetanol kembali menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto mendorong percepatan penerapan campuran etanol pada bensin hingga E10, bahkan E20, Kamis (13/8/26).
Harga BBM Bioetanol Pertamax Green 95
Bagi masyarakat yang penasaran dengan harga BBM bioetanol di SPBU Pertamina, Pertamax Green 95 dibanderol Rp16.600 per liter mulai 1 Agustus 2026.
Harga tersebut mengalami penurunan dibandingkan harga pada Juli 2026 yang berada di level Rp17.000 per liter.
Dengan demikian, Pertamax Green 95 menjadi salah satu pilihan BBM dengan RON tinggi yang tersedia di Indonesia, sekaligus menjadi produk bensin yang telah menggunakan campuran bahan bakar nabati berbasis bioetanol.
Namun, ketersediaannya masih belum merata di seluruh Indonesia.
Indonesia Baru Terapkan E5
Pengembangan bioetanol Indonesia saat ini masih berada pada tahap awal. Pertamina menyebut penerapan E5 baru dilakukan secara terbatas di sekitar 170 outlet SPBU Pertamina di Jawa Timur dan Jakarta.
Campuran E5 berarti setiap bagian bensin mengandung sekitar 5 persen bioetanol.
Pemerintah kini ingin meningkatkan level tersebut menjadi E10, yakni bensin dengan campuran etanol 10 persen. Bahkan, target jangka berikutnya adalah menuju E20.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperbesar penggunaan bahan bakar nabati sekaligus mengurangi kebutuhan impor bensin.
Baca Juga: Geger! Bayi Perempuan dalam Tas Kertas Ditemukan di Depan Rumah Warga Karangampel Kudus
Prabowo Dorong Indonesia Kejar India dan Brasil
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan bahan bakar berbasis bioetanol.
Menurut Prabowo, Indonesia tidak seharusnya tertinggal dari negara lain dalam pemanfaatan etanol sebagai campuran bensin.
India saat ini telah menerapkan E20, sementara Brasil dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat pemanfaatan etanol yang jauh lebih tinggi, termasuk penggunaan bahan bakar dengan kadar etanol sangat besar.
Indonesia sendiri dinilai memiliki sumber bahan baku yang cukup beragam untuk pengembangan bioetanol.
Bahan bakunya tidak hanya berasal dari tebu atau tetes tebu, tetapi juga dapat dikembangkan dari singkong, jagung, sorgum hingga aren.
Baca Juga: Geger! Bayi Perempuan dalam Tas Kertas Ditemukan di Depan Rumah Warga Karangampel Kudus
Pemerintah Bidik Puluhan Pabrik Bioetanol
Untuk mengejar target E10 hingga E20, kebutuhan pembangunan fasilitas produksi bioetanol menjadi salah satu tantangan utama.
Prabowo bahkan mendorong pembangunan sedikitnya 30 pabrik bioetanol dan membuka kemungkinan jumlah tersebut bertambah hingga 50 pabrik.
Sementara itu, Pertamina memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 20 hingga 30 pabrik bioetanol baru dalam dua tahun ke depan untuk mendukung kebutuhan nasional.
Pengembangan industri tersebut juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi petani karena bahan baku bioetanol dapat berasal dari komoditas pertanian dalam negeri.
Artinya, pengembangan BBM bioetanol tidak hanya berbicara soal energi, tetapi juga menyangkut peluang terbentuknya rantai ekonomi baru dari sektor pertanian hingga industri energi.
Harga Bioetanol Murni Tembus Rp11.695 per Liter
Di luar harga Pertamax Green 95 yang sudah tercampur dengan bensin, pemerintah juga menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati jenis bioetanol sebesar Rp11.695 per liter untuk Agustus 2026.
Harga tersebut merupakan harga bioetanol murni sebelum dicampurkan dengan bensin.
Nilainya meningkat dibandingkan HIP bioetanol pada Juli 2026 yang tercatat Rp10.933 per liter.
Penetapan HIP tersebut menggunakan formula yang mempertimbangkan harga rata-rata tetes tebu serta nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan karena keberlangsungan industri bioetanol sangat bergantung pada kepastian pasokan dan harga bahan baku.
Tantangan Besar Menuju E20
Target E20 memang terdengar besar, tetapi penerapannya membutuhkan kesiapan dari banyak sisi.
Bukan hanya soal membangun pabrik bioetanol, pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan bahan baku, distribusi, regulasi, standar kualitas, kesiapan infrastruktur SPBU, hingga kepastian harga.
Pertamina juga menilai diperlukan regulasi mandatori dan kepastian harga bahan baku agar ekosistem bioetanol nasional dapat berkembang secara berkelanjutan.
Jika seluruh kebutuhan tersebut terpenuhi, Indonesia berpeluang meningkatkan penggunaan energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak impor.
Untuk saat ini, masyarakat perlu membedakan antara bioetanol murni dan BBM bioetanol yang sudah dijual kepada konsumen.
Pertamax Green 95: Rp16.600 per liter mulai 1 Agustus 2026.
HIP bioetanol murni: Rp11.695 per liter untuk Agustus 2026.
Keduanya bukan produk yang sama. Harga Rp11.695 per liter merupakan acuan harga bioetanol murni sebelum dicampurkan dengan bensin, sedangkan Rp16.600 per liter merupakan harga jual Pertamax Green 95 kepada konsumen.
Perkembangan ini menjadi sinyal bahwa penggunaan BBM berbasis bioetanol di Indonesia mulai bergerak dari tahap pengembangan menuju penggunaan yang lebih luas.
M8/CNB

















