NTT, Metro8.News – Kisah dramatis datang dari Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang nenek berusia 84 tahun bernama Paulina Pobi berhasil ditemukan dalam kondisi selamat setelah selama empat hari tertimbun reruntuhan rumah akibat gempa NTT berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut.
Paulina merupakan warga Desa Nitunglea, Pulau Palue. Ia tertimbun sejak gempa mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026).
Proses evakuasi berlangsung pada Selasa (18/8) siang. Warga Desa Nitunglea menjadi pihak yang berhasil menemukan dan mengeluarkan Paulina dari balik reruntuhan.
Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno membenarkan adanya proses evakuasi tersebut.
Menurutnya, Paulina berhasil diselamatkan dan langsung dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan perawatan.
“Dievakuasi kemarin siang, sudah dibawa ke Puskesmas terdekat korban selamat,” kata Bambang dalam keterangan tertulis, Rabu (19/8).
Paulina kemudian menjalani perawatan di Puskesmas. Kondisinya dipastikan selamat setelah empat hari bertahan di tengah reruntuhan bangunan.
Baca Juga: Ronaldo dan Georgina Resmi Jadi Suami Istri, Pernikahan Mewah Justru Digelar Sederhana
Desa Terisolasi Pascagempa
Desa Nitunglea menjadi salah satu wilayah yang mengalami kendala akses setelah gempa mengguncang Pulau Flores dan sejumlah wilayah di NTT.
Akses menuju desa tersebut tertutup material longsoran. Batu-batu berukuran besar serta pepohonan tumbang membuat jalur darat sulit dilalui.
Kondisi tersebut membuat perjalanan menuju Desa Nitunglea tidak mudah. Desa itu bahkan harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar tiga jam dari dermaga.
Situasi ini turut menjadi tantangan dalam proses penanganan warga terdampak gempa, termasuk pencarian dan evakuasi korban yang masih berada di wilayah terdampak.
Baca Juga: Sidang Abi Jamroh Memanas! Terdakwa Dugaan TPKS Ngotot Tak Bersalah, Ini Langkah Jaksa
Trauma Healing Jadi Perhatian
Selain penyelamatan korban dan penanganan kebutuhan dasar, kondisi psikologis para penyintas gempa juga menjadi perhatian aparat.
Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko menilai trauma healing penting diberikan kepada para pengungsi, terutama anak-anak.
Menurutnya, dampak bencana tidak hanya menimbulkan luka secara fisik. Pengalaman menghadapi gempa, kehilangan tempat tinggal hingga berada di pengungsian juga dapat memengaruhi kondisi mental para penyintas.
Perhatian terhadap kesehatan mental tersebut dilakukan bersamaan dengan penanganan para pengungsi di sejumlah titik.
Pada Rabu (19/8), misalnya, Lapangan Gelora Samador menjadi salah satu lokasi pengungsian yang menampung sekitar 1.207 orang.
Kapolda NTT bersama Ketua Bhayangkari NTT Vily Darmoko turut mendatangi lokasi tersebut untuk memberikan dukungan dan kegiatan trauma healing bagi para pengungsi.
Kisah Paulina menjadi salah satu gambaran bagaimana warga di wilayah terdampak masih menghadapi situasi sulit pascagempa. Setelah empat hari berada di bawah reruntuhan, nenek berusia 84 tahun itu akhirnya berhasil ditemukan dan diselamatkan oleh warga.
Peristiwa tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya peran masyarakat dalam proses pencarian dan penyelamatan di tengah kondisi wilayah yang masih sulit dijangkau.
M8/CN

















