Berastagi, Metro8.News – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Ratusan siswa dari dua sekolah menengah atas (SMA) di Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan yang dibagikan melalui program MBG, Kamis (13/8/2026).
Dua sekolah yang siswanya terdampak yakni SMA Negeri 1 Berastagi dan SMA Bersama Berastagi.
Sejumlah siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi menu MBG. Gejala yang muncul di antaranya mual, muntah, pusing hingga tubuh terasa lemas.
Baca Juga: Geger! 2.262 Batang Rokok Ilegal Digerebek di Jepara, Toko dan Warung Jadi Sasaran Operasi Gabungan
Kondisi tersebut membuat para siswa harus mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.
Informasi terbaru menyebutkan 240 siswa masih menjalani perawatan di tiga rumah sakit, yakni Rumah Sakit Umum Daerah, Rumah Sakit Efarina Etaham dan Rumah Sakit Amanda.
Sekolah Benarkan Kejadian
Kepala UPT Dinas Pendidikan Sumatera Utara Cabang Kabanjahe, Zulkarnain Barus, membenarkan adanya kejadian tersebut.
Saat dikonfirmasi pada Kamis (13/8/2026), ia mengatakan pihaknya masih berada di lokasi untuk menangani kondisi para siswa.
“Betul ada peristiwa keracunan di sekolah. Ini saya di lokasi sedang menangani,” ujarnya.
Namun, pihaknya belum dapat memastikan jumlah keseluruhan siswa yang mengalami keluhan kesehatan pada saat awal kejadian.
Baca Juga: BBM Bioetanol Sudah Dijual di SPBU! Harganya Rp16.600 per Liter, Cek Jenisnya
Penyebab pasti munculnya gejala tersebut juga masih dalam penyelidikan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah keluhan para siswa benar-benar berkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi.
BGN Prioritaskan Keselamatan Siswa
Kepala BGN Wilayah Karo, Sumber Sembiring, juga membenarkan adanya insiden yang terjadi di dua sekolah tersebut.
Menurutnya, kejadian tersebut telah dilaporkan sebagai kondisi kejadian luar biasa (KLB) dan tim masih fokus melakukan penanganan terhadap para siswa yang terdampak.
“Fokus kami penyelamatan korban dulu, baru setelah korban aman baru kami lakukan penyelidikan untuk SPPG yang bersangkutan,” katanya.
BGN juga telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan para siswa mendapatkan pertolongan medis.
Setelah kondisi korban dinyatakan aman, evaluasi terhadap dapur SPPG yang menyediakan makanan akan dilakukan untuk mencari tahu penyebab kejadian.
Sampel Menu MBG Diperiksa
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kabupaten Karo mengambil sampel makanan yang dibagikan kepada siswa untuk dilakukan pemeriksaan.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam proses penelusuran penyebab dugaan keracunan massal.
Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat kontaminasi pada makanan, persoalan dalam proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, atau faktor lain yang menyebabkan siswa mengalami gangguan kesehatan.
Hingga kini, penyebab pasti kejadian belum dapat disimpulkan.
Bukan Kasus Pertama
Kasus dugaan keracunan yang melibatkan penerima manfaat MBG ini kembali menimbulkan pertanyaan mengenai pengawasan terhadap proses penyediaan makanan, mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, penyimpanan hingga distribusi ke sekolah.
Sebelumnya, sejumlah daerah juga melaporkan kasus serupa yang melibatkan penerima MBG.
Karena itu, setiap kejadian harus ditangani secara transparan agar penyebabnya dapat diketahui dan kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Untuk kasus Berastagi, perhatian utama saat ini adalah memastikan seluruh siswa mendapatkan perawatan hingga kondisi mereka pulih.
Setelah itu, hasil pemeriksaan makanan dan investigasi terhadap SPPG diharapkan dapat menjawab pertanyaan penting: apa sebenarnya yang menyebabkan ratusan siswa jatuh sakit setelah menyantap makanan MBG?
M8/KMP

















