Jepara, Metro8.News – Krisis air bersih yang biasanya muncul saat puncak kemarau, kini datang lebih awal dan menghantam wilayah pesisir di Kabupaten Jepara. Sejak Februari 2026, warga Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, sudah mulai kesulitan mendapatkan air bersih.
Hingga Rabu, 17 Juni 2026, kondisi belum juga membaik. Bahkan, ratusan keluarga kini sepenuhnya bergantung pada bantuan droping air untuk bertahan hidup.
Di RT 02 dan RT 03 RW 02, aliran air bersih hanya mengalir satu hingga dua kali dalam sepekan dengan debit kecil. Sejumlah rumah di ujung jaringan distribusi bahkan tidak lagi kebagian air selama berbulan-bulan.
Baca Juga: BGN Pangkas Penerima MBG, Siswa SMA Berpotensi Tak Lagi Dapat Makan Gratis
Sayidah, salah satu warga, mengaku sudah empat bulan terakhir tidak merasakan aliran air bersih di rumahnya.
“Untuk mandi dan cuci, kadang harus ambil air di musala. Kalau masak, terpaksa beli galon,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Rabu (17/6/2026).
Dalam sehari, ia harus membeli 1–2 galon air seharga Rp5.000. Total pengeluaran untuk air bersih kini membengkak hingga Rp150 ribu sampai Rp300 ribu per bulan melonjak jauh dari biaya normal sebelumnya.
Baca Juga: Perangkat Desa Perempuan di Demak Kena SP2, Diduga Lindungi Warung Miras Anak di Samping Kantor Desa
Sumur Tak Lagi Jadi Solusi
Harapan warga pada sumur juga pupus. Air yang dihasilkan kini berubah menjadi asin akibat intrusi air laut yang semakin terasa di kawasan pesisir.
“Kalau sumur terlalu dalam, airnya asin. Kalau dangkal, cepat kering saat kemarau,” keluh warga lainnya.
Kondisi ini membuat warga tak punya banyak pilihan selain mengandalkan bantuan dan membeli air untuk kebutuhan sehari-hari.
2.500 Jiwa Terdampak
Data per Juni 2026 dari mencatat, sekitar 870 kepala keluarga atau sekitar 2.500 jiwa terdampak krisis air bersih di 11 RT dalam dua RW di Kedungmalang.
Sebagai langkah darurat, BPBD sejak awal Juni 2026 mengintensifkan droping air bersih dua kali dalam sepekan. Setiap pengiriman mencapai 8.000 liter menggunakan dua truk tangki.
Distribusi dipusatkan di titik penampungan agar bisa diakses warga secara bergiliran.
“Untuk sementara kami fokus di titik ini, sementara wilayah lain dibantu PDAM agar merata,” ujar staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, Muhammad Zainuddin, Rabu (17/6/2026).
Baca Juga: Mahfud MD Soroti Dugaan Korupsi MBG: Tak Masuk Akal Jika Berlangsung Lama Tanpa Jejak
Ancaman Membesar di Puncak Kemarau
Datangnya krisis sejak awal tahun memicu kekhawatiran serius. Jika kondisi berlanjut hingga puncak kemarau pada Agustus–September 2026, dampaknya diprediksi akan jauh lebih luas.
Selain faktor musim, kondisi geografis pesisir yang rentan intrusi air laut memperparah situasi.
Kini, warga berharap ada solusi jangka panjang, mulai dari perbaikan jaringan distribusi hingga penyediaan sumber air alternatif.
Tanpa langkah konkret, krisis air bersih di Kedungmalang bukan lagi sekadar masalah musiman melainkan ancaman nyata yang terus berulang dan kian membebani kehidupan masyarakat.
M8/TBMS

















